JAKARTA — Aktris Poppy Sovia membagikan pengalaman tidak menyenangkan yang memicu kemarahannya.
Lewat sebuah video curahan hati di akun Instagram, ia mengungkapkan kekesalannya setelah menjadi korban pelecehan verbal oleh sekelompok pria di sebuah minimarket rest area.
Dalam video tersebut, Poppy menceritakan insiden yang terjadi usai ia berbelanja. Sekelompok pria tak dikenal diduga melontarkan cemoohan yang menyasar gaya berpakaiannya.
“Ada segerombolan laki-laki, gue nggak tahu ya, tuh laki-laki berasal dari mana. Memang, memang gue suka berpakaian seperti ini gitu. So what, gitu loh?!” ujar Poppy, dikutip VOI dari akun Instagram pribadinya, Kamis, 30 Oktober.
Poppy menyatakan tak habis pikir dengan sikap para pelaku yang merasa berhak melecehkan perempuan secara verbal. Ia menolak keras anggapan bahwa cara berpakaian seorang perempuan bisa menjadi pembenaran untuk pelecehan.
“Gue nggak habis pikir sama respons-respons orang yang, khususnya laki-laki ya, maksudnya mengeluarkan suara-suara mencemooh. Mengeluarkan suara-suara bahwa perempuan itu berhak dilecehkan secara verbal,” lanjutnya.
Puncak emosinya muncul saat Poppy menantang para pelaku membayangkan bila pelecehan serupa menimpa anggota keluarga mereka sendiri.
“Lu pikir, kalau lu punya adik perempuan atau ibu lu sendiri, atau mungkin keluarga terdekat lu, seorang perempuan, lu rela digituin, an**r?! Mikir!” serunya.
SEE ALSO:
Di akhir videonya, Poppy memberi peringatan tegas: jika kejadian serupa terulang, ia tidak segan melawan secara fisik demi memberi pelajaran kepada pelaku.
“Kalau gue sih, sekali lagi nemuin orang-orang kayak gitu, gue nggak akan ragu sih buat nyambit apapun yang ada di tangan gue, biar pada belajar,” pungkasnya.
Unggahan Poppy ini memicu dukungan dari netizen dan menjadi panggilan kembali soal pentingnya menghormati perempuan di ruang publik serta menegakkan mekanisme perlindungan terhadap korban pelecehan.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)