JAKARTA – Ketegangan antara Israel dan Iran tidak hanya berlangsung di medan militer dan diplomasi, tetapi juga di ruang digital. Di Indonesia, perdebatan publik mengenai konflik tersebut kerap diwarnai tudingan adanya “jaringan hasbara” yang disebut-sebut memainkan opini masyarakat. Namun, benarkah terdapat jaringan terstruktur di Indonesia yang secara sistematis mengampanyekan narasi pro-Israel?

Istilah hasbara berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “penjelasan”. Dalam praktik politik kontemporer, istilah ini sering digunakan untuk merujuk pada strategi diplomasi publik Israel dalam menjelaskan kebijakan negaranya kepada masyarakat internasional. Dalam kajian akademik, praktik semacam ini lebih dikenal sebagai diplomasi publik.

Dalam buku Public Diplomacy, akademisi komunikasi internasional Nicholas J. Cull menjelaskan bahwa diplomasi publik adalah upaya negara untuk memengaruhi opini publik luar negeri melalui komunikasi strategis, media, dan jejaring non-negara. Konsep ini tidak eksklusif milik Israel, melainkan dijalankan banyak negara di dunia.

Sementara itu, teori propaganda klasik dalam buku Propaganda karya Edward Bernays menguraikan bagaimana opini publik dapat dibentuk melalui pengemasan pesan yang terstruktur, pengulangan narasi, serta pemanfaatan figur yang dianggap kredibel. Dalam era media sosial, mekanisme tersebut berkembang melalui algoritma dan jaringan digital.

Seorang mantan Duta Besar Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden George W. Bush Bush, Charles W. Freeman Jr mendeskripsikan “Hasbara” secara lebih luas. Freeman selama ini terkenal kritis terhadap Israel–sikap blak-blakan yang jarang dilakukan pejabat Amerika terhadap sekutu setianya.

Ia menyebut konsep Hasbara termasuk dalam perang informasi untuk memperkuat kedaulatan Israel; memastikan dukungan sekutu; meruntuhkan upaya koalisi musuh; cara suatu isu didefinisikan oleh media, kaum intelektual, dan jaringan sosial; menetapkan parameter wacana secara politis; mendelegitimasi kritik dan argumen kubu seberang; serta membentuk pemahaman dan interpretasi umum atas hasil negosiasi internasional.

DokL Haarez
DokL Haarez

Hasbara beradaptasi di era digital dengan cara halus, menyusup lewat kontrol narasi sebagai senjata ampuh propaganda. Targetnya menjaring sukarelawan untuk menebar informasi yang mendukung tujuan Israel dan menyaring informasi yang bertentangan dengan tesis mereka.

Dikutip dari laporan TRT World—stasiun berita yang berbasis di Istanbul, Turki—pada 2021 silam, Hasbara menyasar sejumlah diplomat, politisi, dan masyarakat melalui media massa. Hasbara juga menjangkau berbagai lembaga pemerintah, pusat-pusat penelitian, universitas, organisasi nonpemerintah, dan firma-firma yang biasa melakukan lobi level tinggi.

Pemerintah Israel bahkan menawarkan beasiswa hasbara. Program ini merupakan beasiswa dan hibah untuk mendorong advokasi pro-Israel, yang menyasar sejumlah individu mulai dari jurnalis hingga blogger, untuk menciptakan citra positif negara itu.

Propaganda Trip

Beberapa media Israel, termasuk laman resmi pemerintah negara itu pada Senin, 28 Maret 2016 memberitakan, sejumlah wartawan senior dari beberapa media di Indonesia bertemu dengan para pejabat Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas undangan dan inisiatif dari Kementerian Luar Negeri Israel.

Berita kunjungan mereka tersiar juga melalui beberapa media online dan cetak Israel, diantaranya Jerusalem Post, the Times of Israeldan Aruth Shave, termasuk laman resmi kementerian luar negerinya, lengkap dengan kutipan harapan Netanyahu yang ingin menjalin hubungan resmi dengan Indonesia.

"Kita jalan ke Israel, tapi itu tidak untuk dipublikasi. Perjalanannya dirancang rahasia,” ungkap Nice (bukan nama sebenarnya), salah satu peserta dari Non-Governmental Organization (NGO) asal Indonesia yang ke Israel kepada VOI, Selasa, 17 Maret.

Nice menyebutkan menyebut bahwa perjalanan ke Israel saat itu merupakan sebuah “propaganda-trip”. Tujuannya untuk menunjukkan seberapa hebatnya teknologi dan ideologi Israel dibaningkan negara Arab.

“Jadi memang kita diajak diskusi, diajak ke tempat-tempat yang intinya itu untuk menunjukkan superioritas teknologi mereka, superioritas ideologi mereka, superioritas negara Israel dibandingkan negara Arab atau Palestina,” urai Naraya.

Istimewa
Istimewa

Keberangkatan ke Israel itu memang dirancang sebagai bentuk diplomasi publik Israel. Terutama untuk mengkooptasi figur-figur penting seperti jurnalis dan key opinion leaders (KOL) di sejumlah negara, untuk melegitimasi kebijakan Israel, atau bahkan menopengi kejahatan perang Israel.

Dalam pertemuan sekitar 40 menit, Netanyahu ditemani empat penasihatnya di bidang media. Ada pula beberapa pejabat dari Kementerian Luar Negeri Israel.

Kelima wartawan yang memenuhi undangan pemerintah Israel itu berasal dari Tempo, Kompas, Bisnis Indonesia, Metro TV, Jawa Posdan Jakarta Post. Nama-nama yang berhasil dikenali antara lain Abdul Rakhim (Jawa Pos), Heri Trianto (Bisnis Indonesia), Tomi Aryanto (Tempo), James Luhulima (Kompas) dan Margareta (MetroTV).

Heri Triyanto, Redaktur Pelaksana Harian Bisnis Indonesia yang ikut dalam delegasi itu mengatakan, lawatan mereka adalah bagian dari kerja jurnalistik, dan hal itu penting bagi para wartawan untuk melihat sendiri situasi riil di lapangan. “Kunjungan ini memungkinkan saya melihat langsung (situasi di lapangan), tanpa kehilangan empati atas perjuangan rakyat di Palestina,” kata Heri dalam sebuah wawancara sebuah media di tahun 2016.

Pola Hasbara di Sosial Media

Sejumlah pakar digital dan lembaga pemantau media mencatat adanya lonjakan aktivitas akun-akun yang secara sistematis menyebarkan narasi pro-Israel di platform media sosial seperti X (sebelumnya Twitter) dan Instagram. Operasi ini ditengarai bertujuan untuk memecah soliditas dukungan masyarakat Indonesia terhadap Palestina dengan mengalihkan fokus isu pada ancaman stabilitas kawasan oleh Iran.

Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, dalam beberapa analisisnya mencatat bahwa akun-akun pro-Israel di Indonesia seringkali menggunakan pola yang serupa. Mereka tidak selalu muncul dengan identitas resmi, melainkan melalui akun-akun anonim berbayar (buzzer) atau individu yang memiliki pengaruh politik.

“Polanya terlihat dari upaya mendiskreditkan Iran sebagai aktor antagonis tunggal di Timur Tengah. Narasi yang dimainkan biasanya berkisar pada ‘hak pertahanan diri’ Israel dan penggambaran kekuatan militer Iran sebagai ancaman nuklir yang membahayakan dunia,” ujar seorang pengamat komunikasi siber yang enggan disebutkan namanya." katanya kepada VOI.

Beberapa laporan dari media digital juga menyoroti keterlibatan sejumlah tokoh lokal yang secara terbuka menyuarakan konten-konten yang selaras dengan pesan-pesan Hasbara. Salah satu yang sempat mencuat adalah keterlibatan akun-akun yang terafiliasi dengan spektrum politik tertentu, yang mencoba mengaitkan sentimen anti-Iran dengan ketakutan ideologis lokal.

Monique Rijkers: Aktivis pro-Israel yang vokal meminta rakyat Indonesia tidak membenci Israel, sering mempromosikan dialog dan menerima kehadiran Israel dengan argumen "dua negara".

Akun X @fakta Israel
Akun X @fakta Israel

Akun-akun Anonim dan "Pasukan Siber": Sering ditemukan di kolom komentar berita lokal, X (Twitter), dan Instagram, yang mendebat sentimen pro-Palestina dan menyebarkan narasi tandingan yang mendukung kebijakan Israel.

Dehumanisasi

Salah satu strategi utama Hasbara di Indonesia adalah penyebaran konten visual yang telah dimanipulasi atau out of context. Misalnya, video serangan udara yang diklaim sebagai keberhasilan sistem pertahanan Iron Dome, namun faktanya merupakan rekaman lama dari konflik berbeda.

Tujuannya jelas: membangun persepsi bahwa Israel adalah pihak yang tak terkalahkan secara militer, sekaligus melakukan dehumanisasi terhadap pihak lawan. Di Indonesia, narasi ini seringkali dibungkus dengan argumen "objektivitas" atau "realisme politik" untuk menarik simpati kelompok moderat.

Respons Pemerintah dan Masyarakat

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berulang kali mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap hoaks lintas negara yang meningkat saat tensi geopolitik memanas. Meski Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, penetrasi konten Hasbara tetap mampu menembus algoritma pengguna di tanah air.

Di sisi lain, gerakan tandingan seperti Julid fi Sabilillah—sebuah gerakan organik netizen Indonesia yang menyerang balik narasi pro-Israel—menjadi bukti bahwa upaya pembentukan opini melalui Hasbara menghadapi perlawanan sengit di Indonesia.

Pertarungan narasi ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan ketidakpastian situasi di Timur Tengah. Bagi audiens di Indonesia, kemampuan melakukan literasi digital dan verifikasi fakta menjadi benteng terakhir agar tidak terombang-ambing dalam arus propaganda transnasional.

Bagikan: