JAKARTA - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump "mungkin bisa memicu perang, tetapi dia tidak bisa mengendalikan bagaimana perang itu berakhir" sambil menekankan Tehran tetap terbuka untuk negosiasi "hanya jika negosiasi itu nyata, bukan dipaksakan dengan kekerasan."
"Kami siap untuk negosiasi," ujarnya dalam wawancara dengan CNN, seraya menambahkan: "Kami tidak percaya ini adalah jenis dialog yang dicari presiden Amerika," seperti melansir Anadolu (29/1).
Ia menuduh Washington merusak diplomasi dengan kekerasan, mengatakan AS "membom meja perundingan dua hari sebelum putaran keenam pembicaraan dengan Iran."
Qalibaf mengatakan, Iran tidak akan memasuki pembicaraan tanpa manfaat nyata, menyatakan, "Selama kepentingan ekonomi rakyat Iran tidak terjamin, tidak akan ada negosiasi," dan melanjutkan, "Kami tidak menganggap dikte sebagai negosiasi."
Lebih jauh ia juga memperingatkan, pembicaraan yang dilakukan di bawah tekanan militer hanya akan memperburuk ketegangan, dengan mengatakan: “Negosiasi di bawah bayang-bayang perang memicu ketegangan.”
"Jika Trump menginginkan Hadiah Nobel Perdamaian, Ia harus menjauhkan diri dari para penghasut perang dan pendukung penyerahan diri di sekitarnya," urai Ghalibaf.
Pernyataan ini menyusul pernyataan terbaru Presiden Trump, "armada besar" sedang bergerak menuju Iran dan seruannya agar Teheran "datang ke meja perundingan" untuk bernegosiasi.
Para pejabat Iran menanggapi dengan peringatan perang dan pembalasan, sambil menegaskan kembali bahwa Teheran tetap terbuka untuk pembicaraan hanya dengan syarat yang digambarkan sebagai adil dan tidak memaksa.
BACA JUGA:
Diketahui, Negeri Para Mullah telah diguncang oleh gelombang protes sejak 28 Desember di Grand Bazaar Teheran karena depresiasi tajam rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Demonstrasi kemudian menyebar ke beberapa kota.
Para pejabat menuduh AS dan Israel mendukung "perusuh bersenjata" untuk menciptakan dalih bagi intervensi asing dan memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan memicu respons "cepat dan komprehensif."