Perang Atas Nama Instalasi Nuklir yang Belum Terbukti

04 Maret 2026, 17:48 | Tim Redaksi
Perang Atas Nama Instalasi Nuklir yang  Belum Terbukti
Foto karya Luthfiah VOI

JAKARTA - Konflik antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat akhirnya meletus pada awal puasa. Yang berujung tewasnya pimpinan Iran Ayatullah Ali Khomeini pada serangan Minggu malam pada (28/Feb/2026), di Kota Teheran setelah sejumlah bom menghantam areal pemukiman dan fasilitas kediaman Komaini.

Serangan juga dilaporkan terus meluas tidak hanya Teheran juga serangan balasan pihak Iran ke Tel Afif, Sirine mereung Diabu-dabi dan Doha yang menjadi pangkalam militer Amerika dikawasan teluk. Menurut Pakar Timur Tengah, Hasibullah Satrawi meski pimpinannya telah dilumpuhkan namun serangan balasan itu tidak mengendur ke pihak musuh.

Konflik antara Iran, Israel, dan AS bukanlah sesuatu yang baru muncul secara mendadak, tetapi merupakan puncak dari ketegangan lama selama puluhan tahun, Iran dan Israel telah menjadi rival strategis sejak revolusi Iran 1979. Sejak Iran mendukung kelompok bersenjata melawan Israel dan menentang keberadaannya.

AS sejak lama menempatkan Israel sebagai sekutu utama di Timur Tengah, mereka telah mendukungnya secara militer, intelijen, dan diplomatik. Program nuklir Iran yang terus dikembangkan, menjadi kekhawatiran Israel serta AS bahwa Iran bisa memiliki senjata nuklir, menjadi salah satu sumber ketegangan Utama di kawasan itu.

Dalam beberapa pekan terakhir, Israel dan AS meluncurkan serangan terhadap target di Iran yang mengakibatkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, yang memperluas dimensi konflik. Apakah Ini Hanya Masalah Keamanan.

Pengamat Militer Purnawirawan TNI yang juga penerbang Pesawat Tempur, Marsda TNI, Agung Sasongkojati, menurutnya 12 jam pertama serangan balik Iran telah mengubah peta konflik secara drastis. Serangan masif yang dilancarkan memaksa analis militer mempertanyakan ketahanan Amerika Serikat dan Israel jika harus menghadapi perang dalam jangka panjang. Sejauh mana kekuatan mereka kedua belah pihak dapat bertahan di tengah situasi yang kian pelik.

Usai serangan AS-Israel ke Iran, kredibilitas dan efektivitas Board of Peace dipertanyakan, apalagi salah satu yang terlibat dalam serangan militer ke Iran adalah Amerika Serikat, yang juga merupakan salah satu aktor utama pembentukan B-O-P, sehingga masuknya Indonesia ke BOP dipertanyakan keefektifan Lembaga tersebut, Apalagi Indonesia telah menawarkan diri sebagai penengah konflik tersebut.

Di tengah Perundingan

Dosen dan Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM, Ririn Tri Nurhayati mengatakan

ditengah perundingan soal nuklir yang hampir selesai ada serangan yang menewaskan pimpinan Iran, Ayatullah Khomeini, sebagai pelanggaran hukum hukum internasional. Selain itu Iran menjadi korban pelanggaran brutal. Padahal kita tahu BOP adalah badan yang mengusung menciptakan perdamaian. oleh karena itu posisi Indonesia yang telah lama dikenal sebagai negara yang bebas aktif.

Israel dan AS menegaskan bahwa aspek keamanan adalah alasan utama, terutama terkait ancaman program nuklir Iran yang dinilai bisa mengubah keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah. Kemampuan rudal balistik Iran yang bisa mencapai wilayah Israel dan pangkalan AS di kawasan.

ILUSTRASI/DOK NATO

ILUSTRASI/DOK NATO

Ancaman dari milisi pro-Iran di kawasan melalui proxy seperti Hezbollah dan Houthis. Sekretaris luar negeri AS bahkan menyatakan bahwa AS terlibat untuk melindungi pasukannya dan mencegah serangan balasan yang bisa menimbulkan banyak korban.

Kepentingan politik dan strategis yang lebih dalam, namun sejumlah analisis dan kritik menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya tentang keamanan semata, melainkan juga mengandung kepentingan politik dan strategis yang luas, diantara

Pertarungan pengaruh regional, Iran selama bertahun-tahun mencoba memperluas pengaruhnya di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman melalui sekutu politik dan milisi. Israel bersama AS mencoba menghambat perluasan itu karena dianggap memperkuat tekanan terhadap mereka.

Aliansi geopolitik yang lebih luas, konflik ini terjadi dalam konteks perubahan struktur kekuatan global. AS berkepentingan menjaga dominasi strategis di Timur Tengah, termasuk akses ke jalur energi utama (minyak dan gas). Israel memperkuat aliansinya dengan negara-negara Arab Sunni untuk mengimbangi pengaruh Iran Syiah.

Ini menunjukkan dinamika politik multipolar global di mana kekuatan besar memainkan peran strategis mereka. Narratif politik domestic. Perang sering digunakan dalam politik dalam negeri untuk memperkuat posisi Pemerintah, Bagi pemerintah Israel dan AS tertentu, menghadapi “ancaman Iran” bisa digunakan untuk mendapatkan dukungan politik domestik, legitimasi kebijakan militer, atau agenda lain.

Kritik dari banyak negara berkembang menyebut konflik ini mirip dengan praktik imperialisme atau campur tangan besar terhadap negara lain. Reaksi global yang menunjukkan dimensi politik, banyak negara – termasuk di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, mereka mengecam tindakan Israel dan AS, bukan hanya karena kekerasan yang terjadi tetapi juga karena dianggap pelanggaran hukum internasional dan agenda kekuasaan global.

Konflik ini tidak bisa dipahami sebagai hanya satu hal, keamanan tetap menjadi alasan penting, terutama dalam narasi resmi oleh Israel dan Amerika Serikat, misalnya ancaman nuklir, rudal, dan keamanan militer kawasan.

Namun kepentingan politik yang lebih luas jelas terlihat, seperti, perebutan pengaruh geopolitik di Timur Tengah, strategi pengamanan jalur energi, dinamika aliansi global, dan permainan politik domestik. Ini seperti sudah menjadi tabiat AS selalu membuat onar dimana-mana dan memaksakan kehendak, dan kepentingan politik yang saling berkaitan — bukan hanya murni soal keamanan teknis.

Seorang Pengamat Pertahanan dan hubungan internasional Tengah potensi eskalasinya menuju perang dunia III. serta bagaimana posisi dan nasib Indonesia di tengah pusaran geopolitik global. beliau membantu publik memahami risiko, skenario terburuk, hingga langkah realistis yang bisa diambil Indonesia menghadapi ketidakpastian dunia saat ini .

Bagikan: