Retorika Lantang Tanpa Dukungan ala Rusia dan China

04 Maret 2026, 09:00 | Tim Redaksi
Retorika Lantang Tanpa Dukungan ala Rusia dan China
Foto karya Luthfiah VOI

JAKARTA – Dua negara adidaya, Rusia dan China menjadi sorotan dunia saat Israel dengan dukungan Amerika Serikat (AS) mulai menggempur Iran, Sabtu, 28 Februari lalu. Bagaimana tidak, Rusia dan China dikenal memiliki hubungan diplomatik, perdagangan, dan militer yang erat dengan Iran.

Tentu, perang antara Israel-AS melawan Iran ini bak menjadi ujian, sejauh mana Rusia dan China bersedia memberikan dukungan kepada negara yang dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian tersebut. Memang, respons Rusia atas serangan AS–Israel ke Iran terdengar lantang. Sayangnya, dukungan konkret dari Moskow tetap terbatas.

BBC News Russian menilai, sikap Moskow itu mencerminkan kemarahan terhadap aksi AS dan Israel sekaligus solidaritas dengan Teheran. Tapi, Rusia juga berhati-hati agar tidak terseret langsung ke dalam konfrontasi. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengungkapkan kekecewaan mendalam bahwa Washington dan Teheran telah melakukan perundingan, tapi situasi justru memburuk menjadi agresi terbuka. “Kami terus menjalin kontak dengan para petinggi Iran serta negara-negara Teluk yang terdampak eskalasi,” imbuhnya.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam AS dan Israel yang disebut melakukan “agresi tanpa provokasi” terhadap Iran. Moskow juga menuding praktik pembunuhan politik dan “perburuan” terhadap para pemimpin negara berdaulat. Puncaknya, Presiden Vladimir Putin menyampaikan belasungkawa kepada atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Minggu, 1 Maret. Putin bahkan menyebut peristiwa itu sebagai “pelanggaran terhadap moralitas manusia dan hukum internasional.”

Namun, Rusia menghindari kritik langsung terhadap Presiden AS Donald Trump, bahkan masih menyatakan terima kasih terhadap Washington atas mediasi dengan Ukraina. Kepentingan terhadap konflik dengan Ukraini ini yang disebut BBC News Russian menjadi alasan mengapa dukungan Rusia terhadap Iran hanya bersifat retoris. Padahal, sejak Rusia menginvasi Ukraina, Teheran merupakan salah satu sekutu terdekat Moskow dengan memasok drone dan membantu Rusia mencari cara menghindari rentetan sanksi Barat.

Sejatinya, sikap Rusia itu menunjukkan bahwa mereka tidak akan terlalu jauh mempertaruhkan kepentingan demi sekutunya. Contohnya adalah peristiwa yang terjadi di Venezuela, Suriah, maupun saat perang 12 hari antara Israel dan Iran pada pertengahan 2025 lalu. Perjanjian kemitraan strategis Rusia–Iran pada 17 Januari 2025 juga tidak sampai menjadi pakta pertahanan bersama. Moskow dan Teheran berjanji untuk berbagi informasi, menggelar latihan gabungan, serta menjaga keamanan regional. Namun, keduanya tidak berkomitmen saling membela jika diserang.

“Bagi Moskow, Iran terlalu penting untuk dibiarkan runtuh, tetapi tidak cukup penting untuk diperjuangkan. Perhitungan itu bisa saja berubah, namun untuk saat ini intervensi Rusia tampaknya akan tetap terbatas pada retorika,” demikian analisis dari BBC News Russian.

Di belahan dunia lain, China juga mengecam keras terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei. Secara historis, Beijing memang menentang strategi perubahan rezim yang dijalankan AS di berbagai belahan dunia. Dilansir BBC World Service Global China Unit, inti hubungan China–Iran adalah kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan, mengingat China merupakan mitra dagang terbesar Iran sekaligus pelanggan energi terpentingnya.

Meski Iran bertahun-tahun digempur sanksi berat dari AS, Beijing tetap menjadi penopang utama ekonomi Teheran. China membeli minyak Iran dalam jumlah besar dengan harga diskon melalui jaringan "ghost fleets"—kapal-kapal yang didaftarkan secara palsu untuk menghindari sanksi. Contohnya pada 2025, China membeli lebih dari 80 persen minyak yang dikirim Iran. Pendapatan dari penjualan itu membantu Iran menstabilkan ekonominya dan membiayai belanja pertahanan, meski negara-negara Barat menutup pintu pasar mereka.

Dalam analisisnya, BBC World Service Global China Unit mengungkap bahwa secara historis, pendekatan China terhadap ketegangan Iran–Israel dan AS adalah strategi menahan diri yang penuh perhitungan. Dalam pertikaian-pertikaian sebelumnya, Beijing secara konsisten menyerukan “menahan diri” sambil menyalahkan campur tangan eksternal, yang secara tidak langsung sindiran terhadap kebijakan AS.

Dalam bentrokan Iran–Israel sebelumnya, China berperan sebagai penyokong diplomatik bagi Teheran dengan menggunakan hak veto—atau ancaman veto—untuk melemahkan resolusi PBB. Namun, Beijing tidak pernah menawarkan intervensi militer langsung. Strategi China selalu bertujuan membuat AS tetap terjebak di Timur Tengah, tanpa memicu keruntuhan total kawasan yang bisa melambungkan harga minyak dunia.

“Bagi Beijing, munculnya rezim pro-Barat di Teheran akan menjadi kekalahan geopolitik besar. Iran bukan hanya pemasok energi, tetapi juga representasi politik yang menjadi penyeimbang signifikan terhadap pengaruh AS di kawasan,” demikian ulas BBC World Service Global China Unit.

Direktur Pelaksana Teneo, yang mengkhususkan diri soal China, Gabriel Wildau, mengatakan bahwa pernyataan resmi China “sangat mengecam, tetapi di luar retorika ini tidak terlihat upaya pemerintah China mengambil tindakan konkret untuk mendukung Teheran. “Mempertahankan detente dengan AS tetap menjadi prioritas strategis bagi kepemimpinan China,” imbuhnya.

ILustrasi peluncuran rudal Iran. (Wikimedia Commons/Hossein Velayati)
Lustrasi peluncuran rudal Iran. (Wikimedia Commons/Hossein Velayati)

Wildau menambahkan, sesuai rencana, pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan berlangsung akhir bulan ini. Trump dan Xi diperkirakan membahas sejumlah isu, termasuk Iran, selama percakapan telepon terakhir mereka pada 4 Februari. “Beijing mungkin akan mencari konsesi pada isu-isu yang lebih langsung terkait dengan kepentingannya, seperti Taiwan dan perdagangan, sebagai imbalan atas pesan yang jauh lebih lunak mengenai Iran.”

Rusia dan China Cenderung Di Belakang Layar

Pakar Hubungan Internasional Unair, Radityo Dharmaputra, juga pesimistis Rusia dan China akan ikut campur secara langsung dalam perang antara Amerika-Israel dan Iran. “Tentu tidak mungkin membantu Iran. Bagi China, tidak ada untungnya. Beijing cukup mengecam dan diam saja. AS sudah memperburuk citranya sendiri. Sementara Rusia masih fokus pada perang di Ukraina. Hal ini yang menurut saya membuat Iran mulai meragukan komitmen Rusia,” imbuhnya.

Sementara pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menegaskan bahwa meski memiliki kedekatan strategis dengan Iran, Rusia dan China kemungkinan tidak akan terlibat secara langsung melawan AS-Israel. Sebab, keterlibatan langsung antara blok Barat dan blok Rusia-China justru menjadi garis merah yang berpotensi memicu perang dunia. “Rusia dan China cenderung bermain di belakang layar. Bantuan militer, suplai logistik, teknologi drone, sistem pertahanan udara, itu lebih realistis dibanding keterlibatan langsung,” sambungnya.

Menurut Amir, salah satu titik paling krusial dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, yang jalur strategis distribusi minyak dunia. Jika Iran memblokade atau terjadi gangguan militer di kawasan tersebut, harga minyak global bisa melonjak drastis.

Dampaknya bukan hanya pada negara-negara Timur Tengah, tetapi juga ekonomi global, termasuk Indonesia. Lonjakan harga energi akan berdampak pada inflasi domestik, beban subsidi energi, nilai tukar rupiah, stabilitas pasar saham. “Perang besar di Timur Tengah hampir selalu berdampak pada krisis ekonomi global. Indonesia harus waspada,” tukasnya.

Dosen Hubungan Internasional UGM, Muhadi Sugiono, menyebut bila perang Iran dan AS-Israel yang merembet pada negara-negara di kawasan Timur Tengah dan mulai terlibatnya sekutu AS dari Eropa merupakan ancaman nyata menuju perang global. Menurutnya, perang ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi mengubah konfigurasi kekuatan global. Dinamika politik yang muncul menunjukkan betapa rentannya sistem internasional terhadap konflik berkepanjangan.

“Kondisi ini semakin mengkhawatirkan terjadinya perang global. Bila konflik tidak segera teratasi, atmosfer politik internasional yang mirip dengan masa Perang Dingin, di mana satu serangan bisa memicu reaksi berantai bisa tercipta,” tegasnya.

Bagikan: