Mitos-Mitos Soal Puasa yang Banyak Membuat Orang Salah Kaprah
Ilustrasi (Sumber Foto: Unsplash/Phuong Tran, Desain: VOI/Raga Granada)

Bagikan:

Selamat datang kembali di Tulisan Seri khas VOI. Khusus edisi kali ini, kita akan mengulas seputar Ramadan. Pertama, mari kita mulai dari menjawab hal-hal yang dianggap mitos selama bulan suci bagi Muslim ini. Ini dia, "Serba-Serbi Ramadan."

 

Setiap memasuki bulan Ramadan, seluruh umat Islam yang ada di Bumi melaksanakan Rukun Islam ketiga: puasa. Mereka bukan hanya menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari, tapi juga harus mengendalikan nafsu, berperilaku baik, dan beribadah sebanyak-banyaknya. 

Besarnya pahala yang dijanjikan di bulan Ramadan sepadan dengan "tantangannya" yang mungkin bisa dibilang gampang-gampang susah. Hal yang dianggap membatalkan puasa hampir menjadi diskusi tahunan.

Oleh karenanya, banyak orang berhati-hati melakukan hal-hal yang dikhawatirkan membatalkan puasanya. Padahal beberapa kekhawatiran tersebut bisa jadi merupakan mitos belaka. Misalnya saja soal apa hukumnya sikat gigi ketika puasa. Bagaimana hukumnya?

Sikat gigi saat puasa

Ilustrasi (Sumber Foto: Unsplash/Phuong Tran)

Tak sedikit orang yang khawatir jika menyikat gigi saat puasa akan batal. Namun menurut penjelasan Muhammad Anis Sumaji dan Najmuddin Zuhdi dalam 125 Masalah Puasa, menggunakan siwak atau sejenisnya seperti sikat gigi dengan pasta gigi, dibolehkan saat berpuasa. 

Sebab, menyikat gigi menggunakan pasta gigi maupun tidak adalah sebatas memasukkan sesuatu ke dalam mulut tapi kemudian dikeluarkan kembali. Oleh karena itu, menyikat gigi dianggap tidak membatalkan puasa. 

Senada, NU Online juga berpendapat mereka yang menggosok gigi menggunakan pasta gigi, jika tidak ada air atau pasta yang masuk tenggorokan maka puasanya tidak batal. Puasa akan batal jika terdapat air atau pasta yang tertelan walaupun tanpa sengaja, puasanya batal.  

Oleh sebab itu, demi kehati-hatian hendaknya menggosok gigi dahulu sebelum waktu imsak tiba. Jika sudah siang, cukup gosok gigi dengan kayu siwak atau dengan sikat gigi tanpa menggunakan pasta. 

Makan banyak saat sahur

Karena harus berpuasa selama 12 jam, banyak orang yang beranggapan semakin banyak makanan yang dikonsumsi saat sahur maka semakin kuat menjalani puasa. Sayangnya pandangan itu tidak tepat.  

Alih-alih mengonsumsi banyak makanan, saat sahur lebih baik memerhatikan komposisi dan nutrisi apa saja yang akan dikonsumsi. British Nutrition Foundation menjelaskan, minum lebih banyak air dan pilih makanan kaya akan cairan saat sahur dapat menjadi pilihan. 

Ilustrasi (Sumber: Unsplash/Ali Inay)

Selain itu pilihlah makanan bertepung untuk memperkuat energi. Kemudian pilih jenis serat tinggi atau biji-bijian jika memungkinkan karena ini dapat membantu seseorang merasa kenyang dan dapat membantu pencernaan karena mencegah sembelit. 

Yang tak kalah penting adalah jika menyantap hidangan gurih saat sahur, ada baiknya mengurangi makanan yang mengandung banyak garam alias terlalu asin. Sebab, garam akan mengikat air. Akibatnya, rasa haus akan lebih cepat menghinggapi tubuh ketika berpuasa.

Larangan puasa ibu menyusui

Hal ini juga menjadi salah satu pertanyaan yang sering muncul saat Ramadan. Lantas bagaimana faktanya?

Ibu menyusui memang diberi kelonggaran untuk tidak berpuasa, namun bukan berarti dilarang untuk berpuasa. Banyak orang yang beranggapan bahwa ketika puasa, produksi ASI sedikit dan nutrisi yang terkandung berkurang. Padahal penelitian menunjukkan sebaliknya. 

Jurnal berjudul Impact of Maternal Ramadan Fasting on Growth Parameters in Exclusively Breast-fed Infants Iran menampilkan penelitian terkait pengaruh puasa ibu selama Ramadan terhadap pertumbuhan bayi yang disusui eksklusif usia 15 hari - 6 bulan. Ibu dari 36 bayi ini berpuasa sepanjang Ramadan dan 80 ibu tidak berpuasa. Pertumbuhan bayi dievaluasi dua kali selama Ramadan, 3 kali pada bulan kedua dan dua bulanan pada 4 bulan berikutnya. 

Studi ini tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam pertumbuhan bayi di kedua kelompok. Penelitian ini menyimpulkan puasa Ramadan oleh ibu menyusui tidak berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan bayi yang mendapat ASI eksklusif setidaknya dalam jangka pendek.

Hal serupa juga diungkap jurnal Impact of Maternal Fasting During Ramadan on Growth Parameters of Exclusively Breastfed Infants in Shahroud. Dalam jurnal itu peneliti mempelajari pertumbuhan 55 bayi sehat yang mendapatkan ASI eksklusif selama usia 1-6 bulan. 

Dari 55 bayi, 20 ibu berpuasa sepanjang Ramadan dan 35 ibu tidak berpuasa. Pertumbuhan bayi dievaluasi dua kali pada bulan Ramadan dan empat kali pada bulan pertama, kedua dan ketiga setelah Ramadan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa puasa Ramadan oleh ibu menyusui tidak berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan bayi yang disusui setidaknya dalam jangka pendek.

Jika seorang ibu tidak minum cairan selama sehari, bayinya umumnya akan menyusu seperti biasa pada hari puasa, tetapi akan lebih sering menyusu pada hari atau dua hari berikutnya.

Menangis membatalkan puasa

Mungkin beberapa orang pernah memiliki pengalaman ketika menangis ditegur karena sedang berpuasa. Mereka yang menegur mengatakan bahwa menangis membatalkan puasa. Namun benarkah demikian? 

Ustadz M. Ali Zainal Abidin lewat tulisannya berjudul Apakah Menangis Dapat Membatalkan Puasa? menjelaskan, dalam berbagai kitab dijelaskan secara rinci tentang berbagai hal yang dapat membatalkan ibadah puasa. Menangis tidak termasuk dari penyebab batalnya puasa. Ia memberikan contoh dalam kitab Matnu Abi Syuja’: 

“Yang membatalkan puasa ada sepuluh hal, yakni (1) sesuatu yang sampai pada rongga bagian dalam tubuh (jauf) atau kepala, (2) mengobati dengan memasukkan sesuatu pada salah satu dari dua jalan (qubul dan dubur), (3) muntah secara sengaja, (4) melakukan hubungan seksual secara sengaja pada alat kelamin, (5) keluarnya mani sebab bersentuhan kulit, (6) haid, (7) nifas, (8) gila, (9) pingsan di seluruh hari dan (10) murtad,”

Mata tidak memiliki saluran yang mengarahkan benda menuju tenggorokan, sehingga tidak mungkin ketika seseorang menangis, terdapat sesuatu yang masuk dalam mata menuju tenggorokan. Berbeda lagi jika air mata tertelan dan melewati tenggorokan, maka puasa itu akan batal. 

Infografik (VOI/Raga Granada)

Tidak berolahraga selama puasa

Mungkin beberapa orang khawatir merasa haus atau lelah jika tetap berolahraga saat puasa. Bahkan ada yang takut pingsan dan membuat mereka batal puasanya. Mengutip Global News, ahli gizi yang berbasis di Ontario, Anar Allidina, mengatakan penting bagi Muslim untuk menyediakan waktu berolahraga meski tengah berpuasa.

Jika jadwal sibuk tidak memungkinkan, dia menyarankan untuk berolahraga sekitar satu jam setelah sahur. Pada saat itu, orang yang lepas sahur akan mencerna sebagian makanan dan memiliki lebih banyak energi. Allidina mengatakan waktu terburuk untuk berolahraga adalah di tengah hari, karena mereka yang berpuasa akan terkuras tenaganya dan tidak dapat mengisi bahan bakar. 

Namun, jika hanya itu waktu mereka senggang, dia menyarankan untuk berolahraga hanya selama 20 hingga 30 menit, dan melakukan olahraga dengan intensitas rendah. Allidina merekomendasikan memulai perlahan olahraga selama beberapa hari pertama Ramadan dengan hanya berolahraga selama setengah jam jika memungkinkan.