JAKARTA - Penerbit berita di Inggris mendapat alat tawar baru menghadapi Google. Mereka kini bisa memblokir artikel agar tidak dipakai dalam ringkasan AI di hasil pencarian, tanpa harus hilang dari pencarian Google biasa.
Menurut laporan The Guardian dikutip Rabu, 3 Juni, keputusan itu diumumkan Competition and Markets Authority atau CMA, otoritas persaingan usaha Inggris. CMA menyebut aturan baru ini memberi posisi lebih kuat bagi penerbit untuk menegosiasikan penggunaan konten dengan Google.
Masalahnya sederhana, tetapi dampaknya besar. Sejak Google menaruh ringkasan AI di bagian atas halaman pencarian, banyak pengguna cukup membaca jawaban singkat itu tanpa masuk ke situs berita. Akibatnya, trafik klik turun. Pendapatan media ikut tertekan.
Sebelumnya, situs web sulit menolak kontennya dipakai untuk AI Overviews, yakni ringkasan jawaban AI di hasil pencarian Google, tanpa ikut keluar dari pencarian Google tradisional. Bagi media, itu pilihan berat. Google masih menjadi pintu utama pembaca menemukan berita.
BACA JUGA:
CMA menyebut Google menguasai lebih dari 90 persen pencarian umum di Inggris. Dengan posisi sebesar itu, media nyaris tidak punya banyak ruang untuk berkata tidak.
News Media Association, yang mewakili penerbit berita Inggris termasuk The Guardian, menyambut keputusan ini. Mereka menyebutnya langkah penting menuju ekonomi digital yang lebih adil, transparan, dan menghargai konten premium.
Google mengatakan mulai Rabu akan menguji kontrol baru pada sebagian situs media di Inggris. Alat itu memungkinkan pemilik situs mengatur bagaimana tautan dan konten mereka muncul dalam fitur pencarian AI Google. Targetnya, fitur ini kelak diluncurkan secara global.
Aturan baru itu juga mewajibkan Google memberi atribusi jelas pada konten penerbit dalam hasil pencarian berbasis AI. Artinya, sumber berita harus terlihat dan ditautkan dengan benar, bukan hanya diringkas menjadi jawaban instan.
Kepala Eksekutif CMA, Sarah Cardell, mengatakan penerbit konten, termasuk organisasi berita, harus punya daya tawar yang layak atas penggunaan karya mereka.
Ia menyebut kebijakan ini sebagai persyaratan pertama di dunia untuk layanan pencarian Google di Inggris. Menurut Cardell, aturan itu membuka jalan bagi perlakuan yang lebih adil, transparansi lebih besar, dan pilihan yang lebih nyata bagi bisnis serta konsumen.
The Guardian juga melaporkan, CMA akan memantau perubahan besar yang diumumkan Google pada Mei terkait platform pencariannya. Perubahan itu dapat mengubah cara hasil pencarian ditampilkan kepada pengguna di Inggris.
Isu ini bukan hanya soal media dan mesin pencari. Ada uang besar di baliknya. CMA memperkirakan biaya iklan pencarian setara hampir 500 pound sterling per rumah tangga Inggris per tahun. Persaingan yang lebih sehat dinilai bisa menekan biaya itu.
Tom Lewis, pengacara persaingan di Geradin Partners dan mantan direktur CMA, mengatakan langkah ini membantu penerbit mempertahankan kendali atas karya mereka.
“CMA patut diberi apresiasi karena menangani isu ini. Mereka berupaya membuka persaingan di platform digital utama,” kata Lewis dikutip The Guardian.
Google, lewat unggahan blog, menyatakan pihaknya bekerja dengan regulator seperti CMA agar pemilik situs memiliki alat yang tepat ketika kebiasaan pengguna berubah.
Mrinalini Loew, General Manager Google Search Ecosystem, mengatakan Google mulai menguji alat baru untuk mengatur tampilan tautan dan konten dalam fitur AI, termasuk AI Overviews dan AI Mode.
Ia menegaskan kontrol baru itu tidak akan menjadi sinyal peringkat untuk hasil pencarian di luar fitur AI generatif. Dengan kata lain, keputusan media memblokir konten dari ringkasan AI tidak seharusnya membuat posisi mereka turun di pencarian Google biasa.
Keputusan ini memberi penerbit di Inggris kendali lebih besar atas penggunaan konten mereka di fitur AI Google. Bagi industri media, itu penting karena karya jurnalistik selama ini menjadi salah satu sumber utama informasi yang diringkas mesin pencari dan layanan AI.