Bagikan:

JAKARTA - Obat antinyamuk berbahan Deet selama ini dipakai untuk mencegah gigitan. Namun studi baru menunjukkan nyamuk bisa belajar tertarik pada Deet jika sebelumnya mengaitkan bahan itu dengan kesempatan mengisap darah.

Mengutip laporan The Guardian, Minggu, 31 Mei, temuan ini dipublikasikan dalam Journal of Experimental Biology. Deet, atau N,N-diethyl-meta-toluamide, adalah bahan kimia yang banyak digunakan dalam produk penolak serangga.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris merekomendasikan produk dengan kandungan Deet 50 persen sebagai pilihan utama untuk mencegah gigitan nyamuk.

Perlindungan ini penting karena nyamuk dapat membawa penyakit berbahaya, seperti demam berdarah, malaria, Zika, dan ensefalitis Jepang.

Prof Claudio Lazzari dari University of Tours, Prancis, mengatakan obat antinyamuk selama ini dianggap bekerja karena sifat kimianya. Deet dapat membuat nyamuk menjauh atau mengganggu kemampuan nyamuk mendeteksi manusia.

Namun, hasil studi terbaru menunjukkan respons nyamuk bisa berubah karena pengalaman.

“Temuan kami menunjukkan bahwa reaksi itu dapat diubah oleh pengalaman,” kata Lazzari.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengamati nyamuk yang mencoba menggigit kantong berisi darah hangat. Masih menurut The Guardian, 60 persen nyamuk yang sebelumnya mengisap darah sambil terpapar Deet kemudian tetap menunjukkan upaya menggigit saat hanya terpapar Deet.

Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan nyamuk yang tidak mendapat pengalaman serupa. Pada kelompok itu, hanya 17 persen yang menunjukkan upaya menggigit.

Pada uji lain, hampir 60 persen nyamuk yang sebelumnya mengisap darah saat ada Deet kemudian mencoba mendekati dan menggigit tangan peneliti yang diberi Deet. Sebaliknya, nyamuk yang tidak dilatih justru memilih tangan peneliti yang tidak diberi Deet.

Dengan kata lain, dalam kondisi tertentu, nyamuk bisa belajar mengaitkan bau Deet dengan kesempatan mengisap darah.

Dr Nina Stanczyk dari ETH Zürich, yang pernah meneliti efektivitas Deet, menilai temuan itu penting. Menurut dia, nyamuk memang memiliki kemampuan belajar yang mengesankan.

“Fakta bahwa mereka dapat mengaitkan bau penolak yang begitu kuat dengan makanan mereka, lalu tertarik padanya setelah itu, sangat luar biasa,” kata Stanczyk.

Namun para ahli menegaskan, hasil penelitian ini bukan alasan untuk berhenti memakai Deet. Lazzari mengatakan Deet tidak kehilangan efektivitasnya dalam penggunaan normal.

“Deet tidak kehilangan efektivitasnya melalui penggunaan normal, tetapi hanya dalam kondisi laboratorium tertentu,” ujarnya.

Prof Francesca Romana Dani, entomolog dari University of Florence yang tidak terlibat dalam studi itu, juga menilai kecil kemungkinan respons nyamuk terhadap Deet berubah dalam kondisi sehari-hari.

Ia mengatakan masih perlu diteliti berapa lama nyamuk mengingat pengalaman mengisap darah saat ada Deet.

Stanczyk menyarankan pelancong tetap memakai obat antinyamuk. Hal terpenting, katanya, adalah menggunakan ulang obat antinyamuk sesuai petunjuk pada label produk, terutama saat efeknya mulai berkurang.

Jadi, Deet tetap berguna. Yang perlu dijaga adalah cara pakainya. Jangan lupa diulang sesuai aturan.