JAKARTA - Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin tercatat menguat tipis 1,05% ke level 67.200 dolar AS (Rp1,14 miliar), namun belum mampu mempertahankan level 68.000 dolar AS (Rp1,15 miliar) yang sempat dicapai sehari sebelumnya.
Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, mengatakan bahwa pergerakan Bitcoin saat ini masih dipengaruhi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang menahan minat investor terhadap aset berisiko.
BACA JUGA:
Meski sempat terdorong oleh sinyal resolusi diplomatik, penguatan tersebut tidak bertahan lama, Bitcoin saat ini masih terkontraksi sebesar 23,7%.
Namun, pasar tetap menyimpan optimisme memasuki kuartal II 2026, mengingat secara historis Bitcoin mencatat rata-rata kenaikan 27,11% dalam periode tersebut selama 12 tahun terakhir.
Di sisi lain, aktivitas investor institusi menunjukkan dinamika berbeda. Perusahaan kripto BitMine tercatat melakukan pembelian besar dengan mengakumulasi 71.179 ETH senilai sekitar 143 juta dolar AS.
“Langkah agresif ini menjadikan BitMine satu-satunya pembeli korporasi skala besar yang masih aktif setelah strategi akumulasi Bitcoin oleh perusahaan besar lainnya mulai mereda,” kata Panji.
Dari faktor makroekonomi, pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, yang cenderung mengabaikan lonjakan harga minyak jangka pendek memberikan sedikit angin segar.
Hal ini mendorong penurunan yield obligasi pemerintah AS serta menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada 2026 menjadi hanya 5%.
Untuk perdagangan hari ini, Bitcoin diperkirakan bergerak di kisaran 66.000 - 68.000 dolar AS atau sekitar Rp1,12 - Rp1,15 miliar.