Bagikan:

JAKARTA - Memasuki 2026, PT Central Finansial X (CFX), bursa aset kripto pertama di Indonesia memperkirakan pasar aset kripto akan tetap terdampak kondisi global yang dinamis meski adopsi korporasi meningkat secara perlahan.

Menurut Direktur Utama Bursa CFX, Subani, berbagai faktor makroekonomi global tetap akan mendorong pasar aset kripto menjadi sangat dinamis, terutama isu geopolitik yang memanas sehingga memicu gejolak pasar keuangan.

“Namun, instabilitas global tidak cukup untuk menghilangkan minat konsumen dalam berinvestasi di aset kripto. Karena itu, kami melihat perkembangan industri aset kripto diperkirakan masih akan menunjukkan tren yang relatif positif memasuki tahun 2026,“ kata Subani.

Data yang dimiliki Bursa CFX menunjukkan lima aset kripto yang paling banyak diperdagangkan sepanjang 2025 di Indonesia adalah USDT, BTC, SOL, ETH, dan XRP.

Kelima aset kripto ini merupakan aset kripto dengan kapitalisasi tertinggi sehingga tidak heran apabila aset tersebut menjadi salah satu pilihan utama konsumen.

“Jika berkaca dari tren global, korporasi di Indonesia juga telah mulai melirik aset digital sebagai salah satu portofolio mereka,” katanya lebih lanjut.

Sesuai data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah korporasi yang memiliki aset digital telah mencapai 973 per November 2025. Pada Februari 2025, jumlahnya baru 581 korporasi. Artinya, terdapat kenaikan sekitar 67,5% selama periode tersebut.

“Sebagai penyelenggara bursa, kami meyakini bahwa tren adopsi aset digital oleh korporasi akan berlanjut ke depannya,” tegas Subani.

Untuk mendorong akselerasi pertumbuhan adopsi korporasi, dibutuhkan perluasan akses pasar termasuk dalam hal ini konsumen institusi asing. Likuiditas pasar yang memadai juga menjadi faktor penting agar transaksi dalam skala besar dapat berjalan lebih efisien.