JAKARTA – Lenovo kembali mencuri perhatian di CES dengan pendekatan khasnya: ide gila yang secara teknis masuk akal. Tahun ini, perusahaan asal China itu memamerkan Legion Pro Rollable, sebuah konsep laptop gaming dengan layar gulung yang bisa berubah dari format standar menjadi hampir ultrawide dalam hitungan detik.
Legion Pro Rollable melanjutkan eksperimen Lenovo dari CES 2025, saat mereka memperkenalkan laptop rollable pertama di dunia. Bedanya, kali ini teknologi tersebut dibawa ke ranah gaming. Layar OLED berukuran 16 inci dapat digulung ke kiri atau kanan hingga membentang ke 21,5 inci, dan bahkan mencapai 24 inci untuk pengalaman visual ekstra lebar dengan rasio 24:9. Targetnya jelas: imersi maksimal tanpa harus membawa monitor eksternal.
Meski masih berstatus konsep, spesifikasi yang diusung tidak main-main. Laptop ini berbasis Legion Pro 7i kelas atas, dibekali GPU NVIDIA GeForce RTX 5090 dan prosesor Intel Core Ultra. Lenovo belum merinci kapasitas RAM dan penyimpanan, namun pendekatan “top spec” menegaskan bahwa perangkat ini ditujukan untuk gamer kelas berat, bukan sekadar pamer teknologi.
BACA JUGA:
Statusnya sebagai konsep memang berarti belum tentu dijual. Namun, sejarah memberi harapan. Laptop rollable Lenovo yang dulu juga berawal dari konsep sebelum akhirnya diproduksi massal. Itu membuat Legion Pro Rollable lebih dari sekadar gimmick panggung CES.
Di luar konsep futuristik tersebut, Lenovo juga mengumumkan produk gaming yang benar-benar akan dijual tahun ini. Legion Go 2 hadir dalam dua versi, Windows dan SteamOS, dengan layar OLED 8,8 inci, RAM hingga 32GB, dan penyimpanan sampai 2TB. Versi SteamOS dibanderol mulai 1.199 dolar AS, sedikit lebih mahal dari versi Windows.
Lenovo turut memperbarui jajaran laptop gaming seperti Legion 7a, Legion 5i, Legion 5a, hingga seri LOQ terbaru. Seluruhnya ditenagai GPU hingga RTX 5060 dan menawarkan desain relatif ringan untuk kelas gaming. Harga dimulai dari 1.149 dolar AS, dengan peluncuran bertahap mulai April hingga Juni.
Sebagai penutup, Lenovo juga memamerkan konsep AI Frame Gaming Display, layar dengan kecerdasan buatan yang mampu mengenali jenis game, menyorot area penting secara otomatis, hingga memberi panduan real-time saat menghadapi momen sulit. Ini masih konsep, tapi arah pesannya jelas: masa depan gaming bukan cuma soal FPS, tapi juga soal AI yang ikut “main bareng” pengguna.
CES 2026 sekali lagi menunjukkan bahwa batas antara ide liar dan produk nyata makin tipis. Tinggal tunggu waktu mana yang benar-benar turun ke pasar, dan mana yang tetap jadi bahan mimpi gamer.