Jakarta — Pesawat angkut ringan-menengah CN-235, hasil kerja sama industri dirgantara Indonesia dan Spanyol, dikabarkan turut dilibatkan dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela. Operasi ini berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu 3 Janurai dini hari waktu setempat.
Keterlibatan pesawat CN-235 tersebut mencuat setelah beredar dokumen operasi militer bertajuk “Absolute Resolve”, yang diungkap melalui unggahan akun media sosial X @ianellisjones dan kemudian di-repost oleh akun Golden Eagle. Dalam dokumen tersebut, CN-235 tercantum sebagai bagian dari armada pendukung United States Air Force Special Operations Command (USAFSOC).
Operasi Udara Skala Besar
Presiden AS Donald Trump disebut mengerahkan sedikitnya 150 pesawat militer dalam operasi yang diklaim sebagai salah satu operasi udara terbesar AS di Amerika Latin dalam beberapa dekade terakhir.
BACA JUGA:
Paket kekuatan udara AS mencakup pesawat tempur siluman F-22 Raptor dan F-35 Lightning II, pesawat serang F/A-18 Super Hornet, pembom strategis B-1B Lancer, serta pesawat perang elektronik EA-18G Growler. Lapisan kekuatan udara tersebut bertugas melumpuhkan sistem pertahanan udara Venezuela sejak fase awal operasi.
Selain itu, AS juga mengerahkan pesawat pengintai dan komando seperti E-3 Sentry (AWACS), E-2D Hawkeye, dan RC-135 Rivet Joint guna memastikan kesadaran situasional penuh selama operasi berlangsung. Dukungan intelijen diperkuat dengan penggunaan drone jarak jauh untuk pemantauan real-time dan dukungan tembakan presisi.
Peran CN-235 dalam Operasi
Dalam dokumen operasi, CN-235 ditempatkan sebagai bagian dari kelompok pesawat pendukung, dengan peran krusial menjaga kelancaran logistik, pergerakan pasukan, serta koordinasi lintas matra di tengah intensitas tempur tinggi.
Pesawat ini disebut berperan penting terutama pada fase penarikan pasukan, memastikan helikopter pasukan khusus, termasuk Delta Force, dapat masuk dan keluar wilayah Caracas dengan aman setelah target operasi diamankan.
Dominasi udara yang dibangun AS memungkinkan pasukan khusus mencapai kompleks target, mengamankan Presiden Maduro dan istrinya, lalu mengevakuasi mereka tanpa korban jiwa di pihak Amerika Serikat.
CN-235, Platform Kelas Dunia
CN-235 merupakan pesawat hasil kolaborasi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan CASA Spanyol (kini Airbus Defence & Space). Program ini dimulai sejak 1979 dan telah melahirkan lebih dari 300 unit pesawat yang beroperasi di berbagai negara.
SOUTHCOM force posture following joint operation Absolute Resolve:
• 150+ aircraft from 20 bases participated
• Ground force of ~200 U.S. personnel "went downtown in Caracas"
• Unprecedented employment of OWA drones and layered CYBERCOM + SPACECOM effects
The final update? pic.twitter.com/c9gg9g4bFW
— Ian Ellis (@ianellisjones) January 6, 2026
Militer AS sendiri diperkirakan mengoperasikan sekitar 32 unit CN-235 dalam berbagai varian, termasuk untuk misi angkut taktis dan operasi khusus.
Varian CN-235-220 dikenal sebagai pesawat angkut militer ringan-menengah dengan kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), memungkinkan lepas landas dan mendarat di landasan pendek maupun tak beraspal—keunggulan penting dalam operasi militer di wilayah konflik.
Spesifikasi Utama CN-235-220
Kapasitas penumpang: 35–42 orang
Angkut pasukan: hingga 49 personel
Paratroop: hingga 34 personel
Payload maksimum: hingga 5.200 kg
Mesin: 2 × General Electric CT7-9C turboprop
Daya mesin: hingga 1.870 SHP (APR)
Kecepatan jelajah maksimum: 239 knot
Daya tahan terbang: hingga 11 jam
Jarak lepas landas: sekitar 931 meter
CN-235 juga dilengkapi ramp door di bagian belakang, memudahkan bongkar muat cepat, serta konfigurasi fleksibel untuk berbagai misi, mulai dari angkut pasukan, evakuasi medis, hingga kargo militer.
Bukti Kapabilitas Industri Dirgantara Indonesia
Keterlibatan CN-235 dalam operasi militer besar AS ini dinilai menjadi bukti bahwa platform pesawat yang dikembangkan Indonesia memiliki standar operasional kelas dunia dan diakui oleh militer negara adidaya.
Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Indonesia maupun PT Dirgantara Indonesia terkait penggunaan CN-235 dalam operasi militer AS di Venezuela.