Bagikan:

JAKARTA – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mendorong penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memperkuat kemampuan teknologi penginderaan jauh.

Dengan AI, data citra satelit dinilai tidak hanya menjadi visual, tetapi juga menghasilkan analisis yang presisi. Arif pun menegaskan bahwa pendekatan berbasis AI ini sangat diperlukan untuk membangun kemandirian teknologi.

Kecepatan analisis ini dianggap sangat penting, terutama untuk menangani bencana di berbagai wilayah Indonesia. Teknologi pemodelan 3D berbasis AI diharapkan mampu membandingkan data sebelum dan sesudah bencana secara efektif.

“Citra satelit tidak hanya memotret berupa gambar, tetapi bisa langsung menafsirkan analisis citra,” kata Arif, dikutip dari situs resmi BRIN pada Senin, 29 Desember. Ia menekankan bahwa percepatan inovasi ini AI ini harus menjadi fokus utama pada tahun-tahun mendatang.

Fokus penelitian AI di BRIN akan melibatkan kolaborasi lintas bidang mulai dari elektro, telekomunikasi, hingga data sains. Arif mengajak para periset untuk mengembangkan penelitian yang lebih tajam dan relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Selain sektor penginderaan jauh, BRIN juga mempertegas perannya dalam memperkuat daya saing industri elektronik nasional. Dalam hal ini, periset diminta tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga memahami dinamika pasar dan konstelasi industri global.

Melalui fasilitas riset yang memadai dan kompetensi peneliti yang unggul, Arif optimis BRIN akan menjadi kekuatan utama bangsa. Arif bertekad untuk terus memperkuat kolaborasi lintas disiplin untuk mewujudkan kemandirian teknologi Indonesia di masa depan.