Bagikan:

JAKARTA - Majelis rendah parlemen Jerman (Bundestag) mengalami pemadaman email besar-besaran pada Senin 15 Desember dalam apa yang dicurigai oleh para pejabat sebagai serangan siber. Insiden ini bertepatan dengan perundingan tingkat tinggi Amerika Serikat-Ukraina yang diselenggarakan oleh Kanselir Jerman, Friedrich Merz.

Menurut tiga anggota parlemen senior, para anggota parlemen tidak dapat mengakses akun email mereka selama lebih dari empat jam. Salah satu anggota parlemen mengatakan "serangan" tersebut dimulai saat Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, memasuki Bundestag untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Parlemen, Julia Klöckner.

Seorang sumber dari pemerintahan mengatakan ia menduga pemadaman tersebut adalah serangan siber balasan menyusul keputusan Jerman memanggil duta besar Rusia ke kementerian luar negeri minggu lalu terkait dugaan insiden sabotase dan perang hibrida.

"Kami tahu dari mana asalnya," kata seorang sumber pemerintah. Juru bicara pemerintah menolak berkomentar.

Gangguan email terjadi tak lama setelah pembicaraan antara Zelenskyy dan utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, bersama menantu presiden AS Jared Kushner, berakhir di kantor Kanselir Jerman—hanya beberapa ratus meter dari Bundestag—mengenai kemungkinan penyelesaian untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina.

Insiden ini terjadi setelah Berlin pada Jumat 12 Desember memanggil duta besar Rusia untuk menghadapi tuduhan operasi sabotase, serangan siber, dan campur tangan dalam pemilu.

Pemerintah Jerman juga menuduh Moskow menjalankan kampanye disinformasi yang bertujuan menabur "perpecahan" dalam masyarakat Jerman.

"Manipulasi informasi yang ditargetkan ini adalah salah satu dari berbagai kegiatan Rusia yang bertujuan merusak kepercayaan pada institusi dan proses demokrasi di Jerman," kata juru bicara kementerian luar negeri pekan lalu.

Kanselir Merz telah berulang kali memperingatkan bahwa Rusia secara efektif sudah berperang melawan Eropa—dan Jerman secara khusus—melalui serangan siber harian dan tindakan sabotase.

"Kita tidak berperang, tetapi kita juga tidak lagi hidup dalam damai," kata Merz pada Sabtu, 13 Desember.

Bundestag sebelumnya pernah menjadi sasaran peretas Rusia. Pada tahun 2015, intelijen Inggris mengatakan "sejumlah besar data dicuri" dalam serangan yang memengaruhi akun email beberapa anggota parlemen serta Kanselir saat itu, Angela Merkel.

Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) mengatakan pihaknya menilai "dengan keyakinan tinggi bahwa GRU hampir pasti bertanggung jawab."

Pekan lalu, pemerintah Jerman mengatakan gangguan terhadap pengawasan lalu lintas udaranya pada Agustus 2024 kini dapat diatribusikan "dengan pasti" kepada kelompok peretas Rusia "Fancy Bear" dan GRU, layanan intelijen militer Rusia.

Para pejabat juga menuduh Moskow mencoba memengaruhi pemilihan federal tahun ini dan merusak kandidat termasuk Merz dengan menyebarkan disinformasi melalui kelompok bernama "Storm 1516". Kedutaan Besar Rusia di Berlin telah membantah tuduhan tersebut.