Bagikan:

JAKARTA – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mengatakan bahan Indonesia harus memiliki bandara antariksa. Dengan begitu, Indonesia tidak perlu mengandalkan bandara milik negara lain. 

Peluncuran satelit memerlukan bandara, sama seperti peluncuran pesawat. Namun, Indonesia tidak memiliki bandara antariksa di wilayah mana pun. Pembangunan fasilitas ini pun mulai menjadi pertimbangan agar sektor antariksa di Indonesia tidak tertinggal. 

Arif mengatakan bahwa kajian dan naskah akademis mengenai pembangunan bandara antariksa ini telah dibuat. Kini, BRIN hanya perlu mengajukan pembangunan bandaranya menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) agar fasilitasnya cepat dibangun. 

"Kami sudah menyampaikan kepada Bapak Presiden terkait persiapan pembuatan bandara antariksa," kata Arif saat menghadiri acara Anugerah Nurtanio Award dan Nurtanio Pringgoadisuryo Memorial Lecture (NML) 2025, dikutip pada Jumat, 28 November. "Jika bandara antariksa ini bisa diwujudkan, tentu ini akan menjadi tonggak sejarah baru bagi keantariksaan Indonesia." 

Arif menyatakan bahwa pembangunan bandara antariksa ini merupakan langkah yang tepat menuju kemandirian ekosistem riset dan teknologi antariksa nasional. Secara teknologi, BRIN yakin Indonesia sudah siap dan mampu menghasilkan satelit berkualitas baik. 

“BRIN sudah bisa menghasilkan satelit yang bagus, termasuk persiapan Satelit NEO-1 yang saat ini sedang dipersiapkan untuk diluncurkan tahun depan," tambah Arif. 

Ayom Widipaminto, Direktur Fasilitasi Riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), mengungkapkan lokasi yang sudah ditargetkan dalam pembangunan ini. Mereka berencana membangun bandara antariksa di Kabupaten Biak, Papua. 

Lokasi ini dipilih karena dianggap sangat strategis dengan garis khatulistiwa sehingga peluncuran roket bisa lebih efisien dari sisi penggunaan energi. Ayom pun menjelaskan bahwa lokasi Biak sudah dikaji sejak era Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). 

Kajian ini akan difinalisasi oleh BRIN. Meski tidak diungkapkan waktunya, finalisasi ini mungkin akan dilakukan dalam waktu dekat karena negara-negara besar seperti China dan Rusia sudah lama menunjukkan ketertarikan pada lokasi tersebut.