Bagikan:

JAKARTA - Dalam rangka International Fraud Awareness Week, SEEK, perusahaan induk yang membawahi Jobstreet dan Jobsdb, merilis temuan terbaru mengenai tren penipuan di dunia kerja di kawasan Asia Pasifik.

Laporan ini mengungkap bagaimana para pelaku penipuan kerja (scammer) semakin canggih dalam menyesuaikan taktik mereka dengan kondisi pasar kerja lokal dan kebutuhan ekonomi masyarakat.

SEEK mendeteksi berbagai penipuan selama periode Juli 2024 hingga Juni 2025, di mana para pelaku memanfaatkan strategi penargetan yang berbeda-beda di enam negara Asia tempat SEEK beroperasi, yakni Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand

Data menunjukkan Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat penipuan lowongan kerja terbesar di Asia Pasifik, dengan 38 persen dari seluruh upaya penipuan di kawasan Asia Pasifik.

Selain itu, 62 persen dari total penipuan lowongan kerja di kawasan Asia juga terjadi di Indonesia.

Disusul Filipina sebagai target kedua terbesar dengan porsi 20 persen.

“Kami melihat para penipu kini semakin canggih dalam menargetkan tiap pasar yang berbeda. Mereka menyesuaikan pendekatan terhadap setiap negara dan mengincar jenis pekerjaan yang diminati pencari kerja di wilayah tersebut,” ujar Tom Rhind, Head of Trust & Safety SEEK.

Berdasarkan data SEEK, kategori pekerjaan yang paling banyak terdeteksi sebagai target penipuan di Indonesia per bulan Oktober 2025, meliputi:

  • Administration & Office Support (39,36 persen)
  • Manufacturing, Transport & Logistics (21,06 persen)
  • Retail & Consumer Products (12,23 persen)
  • Trades & Services (7,98 persen)
  • Hospitality & Tourism (5,74 persen)

Dalam kategori Administration & Office Support, jenis pekerjaan yang paling sering disasar penipu adalah admin toko online, admin e-commerce, serta data entry.

Sementara itu, di kategori Manufacturing, Transport & Logistics, banyak penipuan memanfaatkan modus iming-iming gaji tinggi atau peluang kerja ke luar negeri.

Operations Director Indonesia Jobstreet by SEEK, Willem Najoan menegaskan temuan ini memperlihatkan tingginya risiko keamanan bagi pencari kerja di Indonesia.

“Kita tidak lagi hanya berbicara soal kerugian finansial, tetapi juga risiko kejahatan serius seperti tindak pidana perdagangan orang yang menyasar warga Indonesia,” ujarnya.