Bagikan:

JAKARTA - TikTok, yang awalnya dikenal sebagai platform berisi konten buatan pengguna, kini meluncurkan pengaturan baru yang memungkinkan pengguna memilih seberapa banyak konten hasil AI (AI-generated content/AIGC) yang ingin mereka lihat di halaman “For You”. Selain itu, TikTok juga memperkenalkan teknologi pelabelan yang lebih canggih untuk mengidentifikasi konten berbasis AI.

Fitur kontrol AIGC ini mulai hadir melalui alat “Manage Topics”, yang memungkinkan pengguna mengatur jenis konten yang muncul di TikTok.

Manage Topics sudah memungkinkan pengguna menyesuaikan seberapa sering mereka melihat konten dari lebih dari 10 kategori seperti Dance, Sports, atau Food & Drinks,” tulis TikTok dalam blog resminya. “Seperti kontrol lainnya, pengaturan AIGC dirancang untuk membantu pengguna mengatur keberagaman konten di feed mereka, bukan untuk menghapus atau menggantikan konten secara keseluruhan.”

Peluncuran fitur ini terjadi di tengah semakin populernya platform berbasis AI, seperti feed AI-only milik Meta dan OpenAI. Pada September 2025, Meta meluncurkan Vibes, feed baru untuk berbagi video pendek buatan AI. Beberapa hari kemudian, OpenAI memperkenalkan Sora, platform sosial untuk membuat dan membagikan video AI.

Sejak kehadiran Sora, banyak video AI realistis mulai beredar di TikTok. Banyak pengguna juga memanfaatkan AI untuk membuat visual pendukung topik lain, mulai dari sejarah hingga selebritas.

Dengan kontrol AIGC yang baru, pengguna yang ingin mengurangi jumlah konten AI dapat menurunkannya, sementara pengguna yang menyukainya bisa menambah porsinya di feed mereka.

Untuk menggunakan fitur ini, pengguna bisa membuka Settings → Content Preferences → Manage Topics, lalu menggeser slider kategori “AI-generated content” untuk menentukan frekuensi kemunculannya di halaman For You. Fitur ini akan dirilis secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan.

TikTok juga sedang menguji teknologi pelabelan baru bernama “invisible watermarking”.
Sebelumnya, TikTok sudah mewajibkan pelabelan pada konten AI realistis dan memanfaatkan teknologi Content Credentials dari C2PA, yang menyematkan metadata untuk menandai konten AI. Namun, metadata tersebut dapat hilang jika konten diunduh, diedit, atau diunggah ulang di platform lain.

Dengan invisible watermark, TikTok menambahkan lapisan keamanan baru melalui watermark yang hanya dapat dibaca oleh sistem TikTok, sehingga lebih sulit dihapus pihak lain.

Watermark tak kasat mata ini akan diterapkan pada konten AI yang dibuat menggunakan alat TikTok seperti AI Editor Pro, serta pada konten yang diunggah dengan data Content Credentials dari C2PA. TikTok mengatakan bahwa pendekatan ini membuat pelabelan konten AI lebih andal, dan mereka akan tetap membaca serta menambahkan kembali Content Credentials pada konten yang dibuat di platform.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi AI, TikTok juga meluncurkan dana literasi AI sebesar 2 juta dolar AS (Rp33,4 miliar) yang ditujukan bagi para ahli dan organisasi—termasuk Girls Who Code—untuk membuat konten edukatif terkait literasi dan keamanan AI.