JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah tekanan kuat, dengan penurunan mencapai 4,95% dalam 24 jam terakhir, membawa harganya turun ke level 89.796 - 90.000 dolar AS atau sekitar Rp1,5 miliar.
Koreksi harga ini menjadi salah satu penurunan terbesar dalam seminggu terkhir. Tekanan ini juga terjadi bersamaan dengan semakin melemahnya sentimen pasar kripto global dan meningkatnya ketidakpastian makro.
Bahkan, kondisi saat ini membuat harga Bitcoin turun hamper 30% dari harga tertingginya di atas 126.000 dolar AS atau sekitar Rp2,11 miliar pada bulan Oktober lalu.
Pelaku pasar mengatakan kombinasi keraguan seputar penurunan suku bunga AS di masa depan dan suasana hati di pasar global, yang telah goyah setelah reli yang panjang, menyeret kripto ke penurunan harga ini.
"Jual yang mengalir ini diperkuat oleh perusahaan-perusahaan dan institusi-institusi terdaftar yang keluar dari posisi mereka setelah melakukan aksi unjuk rasa, sehingga memperparah risiko penularan di seluruh pasar", kata Joshua Chu, salah satu ketua Asosiasi Web3 Hong Kong, melansir Reuters.
Sementara itu, Tokocrypto melihat bahwa pasar kripto secara keseluruhan sedang berada dalam kondisi fear mode, di mana investor lebih memilih menyimpan uang tunai.
BACA JUGA:
"Ketidakpastian global seperti potensi kenaikan suku bunga, pelemahan likuiditas, dan risk-off behavior dari institusi menjadi tekanan tambahan yang membuat BTC kesulitan mempertahankan posisi di atas 90.000 dolar AS (Rp1,5 miliar)," jelas Tokocrypto di blog resminya.
Pergerakan Bitcoin hari ini menunjukkan kombinasi koreksi teknikal, tekanan likuiditas, dan sentimen global yang melemah. Jika BTC mampu bertahan di atas 89.000 dolar AS (Rp1,5 miliar), peluang rebound tetap terbuka.
"Sebaliknya, penurunan lebih dalam dapat membawa pasar memasuki fase bearish jangka menengah," pungkasnya.