JAKARTA - VIDA, penyedia solusi identitas digital di Indonesia, menegaskan komitmennya dalam memperkuat kepercayaan digital (digital trust) nasional melalui solusi inovatif autentikasi berbasis AI.
Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur, menyampaikan bahwa ancaman digital ke depan bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga dimanfaatkan untuk memanipulasi orang, seperti melalui praktik phishing atau account takeover.
“Teknologi deepfake kini sudah mencapai titik di mana sulit membedakan mana yang asli dan mana yang palsu,” ujar Niki dalam pernyataannya dikutip Jumat, 7 November.
Niki juga mengungkap fenomena baru yang kini marak di dunia siber, yaitu scan-as-a-service, jaringan penipu yang menyediakan akses ke jutaan akun digital.
Baru-baru ini terungkap device farm di Latvia yang melayani 15 ribu pelaku fraud dan mengakses 48 juta rekening digital. Hal ini menunjukkan bahwa para penipu kini beroperasi layaknya perusahaan, lengkap dengan infrastruktur, data sharing, dan kolaborasi.
BACA JUGA:
Dengan meningkatnya ancaman keamanan digital secara global, Niki menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan digital nasional serta membangun ekosistem terintegrasi yang mampu menjaga keamanan informasi dari sumber yang tepercaya.
“Kita di sisi industri juga harus berkolaborasi dengan skala yang sama kuatnya, antara perbankan, fintech, asosiasi, dan penyedia keamanan digital, untuk memperkuat ketahanan ekosistem digital nasional,” jelas Niki.