Bagikan:

JAKARTA - Pasar aset kripto menunjukkan tren menghijau pada hari ini, dengan harga Bitcoin (BTC) melejit ke level 114.500 dolar AS (Rp1,9 miliar) per pukul 08:00 WIB dan menguat +2,90% dalam 24 jam terakhir.

Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, mengatakan bahwa tren kenaikan ini didukung oleh korelasi negatif yang jelas dengan Emas, aset lindung nilai tradisional. Harga tokenisasi Emas (Token XAUT) tercatat telah turun lebih dari 8% dari rekor tertingginya di 4.395 dolar AS (Rp 73,3 Juta) ke 4.065 dolar AS (Rp67,41 Juta).

"Koreksi tajam pada Emas ini memicu investor untuk beralih dari aset safe haven menuju aset berisiko seperti Bitcoin, menandakan kembalinya sentimen risk-on ke pasar kripto," kata Panji.

Selain itu, pergerakan harga Bitcoin didominasi oleh dua event makroekonomi dan geopolitik krusial yang akan berlangsung pekan ini:

  • Keputusan Suku Bunga The Fed (29 Oktober): Keputusan kebijakan moneter The Fed akan diumumkan pada 29 Oktober. Pasar futures dana Fed saat ini memproyeksikan hampir pasti terjadi pemotongan suku bunga sebesar 25 basis point, membawa kisaran target ke 3.75%-4.00%.
  • KTT AS-China (30 Oktober): Presiden Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada 30 Oktober untuk membahas isu tarif. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi bahwa pejabat kedua negara telah mencapaikonsensus awalmengenai isu perdagangan Utama.

"Kedua even ini menjadi penentu utama apakah sentimen risk-on akan berlanjut," jelas Panji lebih lanjut.

Panji juga melihat bahwa aliran dana ke ETF Bitcoin spot menunjukkan rebound signifikan pada periode 20–24 Oktober 2025. Berdasarkan data SoSoValue, total inflow mingguan mencapai sekitar 446 juta dolar AS, dengan dorongan utama datang pada 21 Oktober yang mencatat masuknya 477 juta dolar AS, terbesar sepanjang bulan ini.

"Pergerakan ini menandakan pemulihan kepercayaan investor terhadap aset berbasis Bitcoin setelah tekanan jual di pekan sebelumnya," pungkasnya.