Bagikan:

JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) bergerak relatif stabil dan cenderung naik tipis setelah Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,25%–4,50%. 

Berdasarkan data CoinGecko, enam jam setelah pengumuman, Bitcoin sempat diperdagangkan mendekati 117.000 dolar AS (Rp1,93 miliar), sebelum kembali terkoreksi tipis ke 116.600 dolar AS (Rp1,91 miliar). 

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai stabilitas harga Bitcoin pasca keputusan The Fed menunjukkan bahwa pasar sudah mengantisipasi pemangkasan tersebut.  

“Pemangkasan ini memang tidak memberi lonjakan harga instan, karena sebagian besar sudah diperhitungkan pasar,” kata Fyqieh dalam pernyataannya pada Kamis, 18 September. 

Menurutnya, fokus investor kini bergeser pada arah kebijakan selanjutnya. Jika The Fed kembali menurunkan suku bunga pada pertemuan berikutnya, maka likuiditas global akan meningkat. 

“Ini berpotensi mendorong Bitcoin menembus level resistance baru di kisaran 120.000 dolar AS atau sekitar Rp1,98 miliar,” ujar Fyqieh.

Ia menjelaskan bahwa riwayat pergerakan Bitcoin menunjukkan bahwa pemotongan suku bunga tidak selalu berujung pada reli harga. Justru, euforia pasar kerap diikuti aksi jual besar-besaran. 

Terakhir kali The Fed memangkas suku bunga pada 18 Desember 2024, harga Bitcoin berada di sekitar 106.000 dolar AS (Rp1,75 miliar) sebelum merosot 30% dalam beberapa minggu berikutnya. 

“Kini, dengan BTC kembali bertengger di atas 117.000 dolar AS, para pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap potensi terulangnya pola serupa,” tambahnya.