Bagikan:

JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) kembali meroket di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat shutdown parsial pemerintahan Amerika Serikat. 

Berdasarkan analisis Ajaib, Kamis, 2 Oktober, BTC sempat bertengger di level 119.152 dolar AS (Rp1,98 miliar). Namun, per siang hari ini, Bitcoin berhasil menembus level 120.099 dolar AS atau setara Rp2,00 miliar.

Menurut Financial Expert Ajaib, Panji Yudha pergerakan BTC kini menjadi level support baru. Secara teknikal, Bitcoin tengah menguji resistance 120.000 dolar AS (Rp2 miliar). Jika gagal menembus level tersebut, BTC berpotensi terkoreksi ke kisaran support 116.000–117.000 dolar AS (Rp1,92-1,94 miliar). 

Panji menyebutkan bahwa lonjakan Bitcoin kali ini terjadi setelah pemerintahan federal AS resmi mengalami shutdown parsial akibat kebuntuan anggaran di Senat. Presiden Donald Trump bahkan mendukung langkah tersebut dengan menegaskan pentingnya pemangkasan belanja negara.

“Shutdown ini dapat menunda rilis data non-farm payrolls AS yang krusial, membuat trader kehilangan basis utama untuk memprediksi kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya,” jelasnya. 

Namun, Panji meminta investor untuk tetap waspada, karena secara historis, dampak shutdown terhadap Bitcoin bervariasi. BTC sempat naik 14% saat shutdown 2013, namun turun 6% pada periode shutdown 2018–2019. 

Selain faktor politik AS, regulasi kripto kini juga jadi sorotan. Dalam sidang Komite Keuangan Senat, anggota parlemen membahas aturan pajak kripto, termasuk kemungkinan pembebasan pajak untuk transaksi kecil dan klasifikasi pendapatan dari staking.

Sementara itu, arus dana institusi semakin menguatkan posisi Bitcoin sebagai aset lindung nilai (hedge). 

Dalam jangka pendek, Panji memprediksi, meskipun ekonomi tradisional tertekan, kondisi saat ini menunjukkan shutdown bisa menguntungkan Bitcoin selama 30 hari ke depan, didukung oleh permintaan korporasi yang berkelanjutan.