Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital telah memproses takedown lebih dari 2,8 juta konten negatif dari ruang digital Indonesia dalam periode 20 Oktober - 16 September, di mana 2,1 juta konten di antaranya merupakan konten perjudian online.

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi Alexander Sabar menyebutkan, dari total tersebut, mayoritas konten judi online berasal dari situs atau alamat IP.

"Total itu 2.179.223, itu dari 20 Oktober 2024 sampai 16 September 2025. Nah dari 2.179.223 konten perjudian yang sejak 20 Oktober 2024 itu, 1.932.131 itu dari situs atau IP berdasarkan domain name atau IP," kata Alex dalam konferensi persnya pada Rabu, 17 September.

Alex menyebut bahwa tingginya angka tersebut menunjukkan besarnya ancaman konten judi online di ruang digital Indonesia. Ia bahkan mengibaratkan jumlah itu setara dua puluh kali kapasitas Stadion Utama Gelora Bung Karno.

"Jumlah sebesar itu kalau kita bandingkan misalnya dengan daya tampung Gelora Bung Karno, itu 20 kali lipat, kalau kita asumsukan tiap kursi diibaratkan satu konten berbahaya. Ini tentunya memberikan gambaran kepada kita bahwa ancaman yang kita hadapi itu sangat besar," tambah Alex.

Dari total 2.179.223 konten perjudian yang ditangani sejak Oktober tahun lalu, mayoritas berasal dari situs dan alamat IP sebanyak 1.932.131 konten. Sisanya berasal dari:

  • File sharing: 97.779 konten
  • Meta: 94.004 konten
  • Google: 35.092 konten
  • X: 1.417 konten
  • Telegram: 1.742 konten
  • TikTok: 1.001 konten
  • Line: 14 konten
  • App store: 3 konten

Alex juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi dalam memerangi judi online salah satunya adalah karena teknologi yang terus berkembang, apalagi konten-konten tersebut bertebaran di ruang digital.

"Setidaknya kita melihat dari tiga faktor. Teknologinya, kemudian prosedurnya, dan people. Teknologi berkembang terus, kita berusaha untuk mengikuti perkembangan teknologi itu. Prosedur sudah ditetapkan, aturan hukum sudah ada. Tetapi sekali lagi, prosedur itu selalu tertinggal dari perkembangan teknologi," tutur Alex.

Meski banyak tantangan yang masih harus dihadapi, terus berkomitmen untuk bekerjasama dengan semua stakeholder untuk mengatasi tantangan-tanatangan tersebut.