JAKARTA – Penjahat siber tidak hanya menyerang perusahaan besar, tetapi juga Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM). Maka dari itu, Palo Alto Networks menegaskan bahwa UMKM memerlukan perlindungan yang tepat.
Dalam riset Cybersecurity Resilience in Mid-Market Organisations 2025, Palo Alto Networks menempatkan Indonesia di posisi teratas di Asia Tenggara dalam ketahanan siber. Namun, ancaman siber kini semakin canggih berkat teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dan AI generatif.
Bahkan, laporan Global Incident Response Unit 42 2025: Social Engineering Edition dari Palo Alto Networks, mengungkapkan bahwa social engineering menjadi metode paling efektif, mencapai 36 persen dari keseluruhan kasus kejahatan siber. Para peretas diketahui mengeksploitasi manusia dengan cara yang makin canggih.
Mereka menggunakan AI untuk meniru suara dan membuat identitas palsu. Hal ini memungkinkan mereka mengambil alih sistem dengan cepat dan mengakibatkan kebocoran data hingga kebangkrutan usaha. Mereka juga sering kali menyerang sisi emosional.
Para peretas juga memanfaatkan Agentic AI untuk membobol bagian keamanan yang rumit. Sayangnya, sebagian besar kelemahan berasal dari manusia. Ada 13 persen serangan social engineering yang berhasil karena karyawan mengabaikan peringatan keamanan.
Kurangnya otentikasi berlapis dan pemberian hak akses yang terlalu luas juga menjadi penyebab kebocoran data. Tim keamanan siber sering kewalahan dan baru menyadari serangan setelah peretas berhasil menguasai sistem.
BACA JUGA:
Menurut Adi Rusli, Country Manager Indonesia Palo Alto Networks, UMKM tidak bisa lagi mengandalkan sistem keamanan lama. Untuk melawan serangan yang semakin canggih, UMKM juga perlu beralih ke solusi berbasis AI.
“Menghadapi ancaman seperti ini, bisnis tidak bisa lagi mengandalkan sistem keamanan lama dan perlu beralih ke solusi AI yang adaptif dan bereaksi langsung terhadap ancaman," ujar Adi dalam keterangan yang VOI terima pada Kamis, 11 September.
Adi menambahkan bahwa membangun budaya keamanan yang berakar pada prinsip zero trust juga sangat penting. Setiap akses dan aktivitas harus diverifikasi secara berkala untuk memperkuat perlindungan.