Bagikan:

YOGYAKARTA - Di era digital yang terus berkembang, teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kemampuannya dalam merespons cepat dan tanpa menghakimi, ChatGPT tak jarang dijadikan sebagai teman curhat oleh banyak orang.

Kapan pun dan di mana pun, AI ini siap mendengarkan keluh kesah penggunanya. Namun, di balik kenyamanan tersebut, terdapat sejumlah bahaya yang perlu diwaspadai.

Bahaya Sering Curhat ke ChatGPT

Curhat ke ChatGPT memang terasa mudah, responsnya sopan, mendengarkan tanpa protes, dan tampak pengertian. Tapi di sinilah masalahnya, terlalu sering mencurahkan isi hati ke AI dapat menimbulkan ketergantungan emosional.

Pengguna mungkin akan merasa lebih nyaman berbicara kepada layar ponsel dibandingkan dengan berinteraksi langsung dengan manusia. Ketergantungan ini berpotensi menumpulkan kemampuan sosial.

Lama-lama, seseorang bisa merasa canggung, sulit terbuka, bahkan menghindari kontak emosional dengan teman atau keluarga. Inilah yang kemudian menjadi benih isolasi sosial. Manusia, pada dasarnya, membutuhkan koneksi nyata, interaksi yang melibatkan empati, bahasa tubuh, nada suara, dan sentuhan emosional yang tidak dimiliki oleh mesin.

Perlu ditegaskan juga bahwa ChatGPT bukan manusia. Ia tidak pernah jatuh cinta, dikhianati, kehilangan orang tersayang, atau bingung bayar cicilan. ChatGPT adalah model bahasa yang dilatih dari triliunan kata di internet. Responsnya adalah hasil analisis pola, bukan hasil dari pengalaman hidup.

Ketika kamu berbicara tentang masalah hati, kesehatan mental, atau keputusan penting dalam hidup, respons dari ChatGPT bisa saja terasa masuk akal, tapi belum tentu benar atau sesuai konteks. Ini karena AI tidak memiliki kesadaran, empati sejati, atau pemahaman emosional yang autentik.

Dikutip dari thesamur.ai, Profesor AI di Universitas Oxford, Mike Wooldridge mengingatkan bahwa pengguna harus menyadari bahwa ketika berinteraksi dengan chatbot, mereka berinteraksi dengan algoritma yang dirancang untuk mencerminkan preferensi pengguna, alih-alih pemahaman emosional yang sesungguhnya.

Bahaya lain yakni banyak pengguna mengira bahwa ChatGPT bisa menjadi tempat meminta nasihat layaknya psikolog, dokter, atau penasihat keuangan. Padahal, ChatGPT bukan profesional di bidang apa pun. Nasihat yang diberikan hanyalah hasil pengolahan teks yang mungkin tampak logis, namun bisa berbahaya bila ditelan mentah-mentah.

Misalnya, kamu sedang mengalami depresi atau kecemasan berat, lalu bertanya ke ChatGPT. Alih-alih mendapatkan bantuan yang tepat, kamu mungkin malah menerima saran umum yang tidak sesuai dan justru memperparah keadaan. Untuk masalah serius, konsultasi dengan tenaga profesional tetap menjadi pilihan terbaik.

Wooldridge menekankan bahwa entitas AI ini dirancang untuk memenuhi preferensi pengguna, seringkali memberi tahu individu apa yang ingin mereka dengar alih-alih memberikan perspektif yang tidak bias.

Hal lain yang tak kalah penting adalah bahaya terkait keamanan data pribadi. Wooldridge mengatakan percakapan dengan AI seperti ChatGPT bisa berkontribusi pada pelatihan model di masa mendatang. Artinya, setiap curhat atau informasi yang kamu berikan berpotensi digunakan untuk menyempurnakan versi AI berikutnya.

5 Hal yang Tidak Boleh Dibagikan ke ChatGPT

Meski OpenAI telah menyediakan fitur untuk menonaktifkan riwayat obrolan, bukan berarti risikonya hilang sama sekali. Data yang sudah masuk ke dalam sistem AI sangat sulit untuk ditarik kembali.

Karena itu, berhati-hatilah dalam membagikan informasi pribadi. Dilansir dari agileblue.com, berikut 5 hal yang tidak boleh dibagikan ke ChatGPT

  1. Informasi identitas pribadi

Identitas pribadi seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat, nomor KTP, dan email. Data ini sangat rawan disalahgunakan untuk pencurian identitas.

2. Informasi keuangan dan perbankan

Data ini termasuk nomor rekening, kartu kredit, atau informasi transaksi. Kebocoran jenis ini bisa menyebabkan kerugian finansial yang besar.

3. Kata sandi dan kredensial login

Jangan pernah membagikan informasi login ke sistem apa pun, termasuk ChatGPT. Ini membuka celah bagi kejahatan siber.

4. Informasi pribadi atau rahasia

Informasi yang dimaksud termasuk masalah keluarga, pekerjaan, atau relasi pribadi. ChatGPT bisa mengungkapkan informasi ini dalam konteks lain tanpa kamu sadari.

5. Hak kekayaan intelektual

Hak kekayaan intelektual seperti ide bisnis, karya kreatif, atau informasi kepemilikan. Begitu dibagikan, kamu bisa kehilangan kontrol atas hak cipta atau manfaat komersialnya.