Bagikan:

JAKARTA - Badan Kejahatan Nasional Inggris (NCA) mengumumkan penahanan empat orang berusia di bawah 21 tahun terkait penyelidikan serangan siber yang mengganggu operasional pengecer ternama Inggris, Marks & Spencer (M&S), Co-op, dan Harrods.

Serangan ransomware terhadap M&S pada April 2025 menjadi yang paling parah, memaksa perusahaan menghentikan layanan belanja online untuk pakaian selama hampir tujuh minggu dan menyebabkan kerugian sekitar 300 juta pound (sekitar Rp6,5 triliun) dari laba operasional.

NCA menyatakan bahwa empat tersangka, tiga pria berusia 19, 19, dan 17 tahun serta seorang wanita berusia 20 tahun, ditahan di wilayah West Midlands dan London. Mereka dicurigai melakukan pelanggaran Undang-Undang Penyalahgunaan Komputer, pemerasan, pencucian uang, dan keterlibatan dalam kejahatan terorganisir. Penahanan dilakukan di rumah masing-masing, dengan penyitaan perangkat elektronik untuk penyelidikan lebih lanjut oleh Unit Kejahatan Siber Nasional NCA.

Pada Selasa 8 Juli, Ketua M&S, Archie Norman, mengungkapkan kepada anggota parlemen bahwa perusahaan telah berkoordinasi dengan FBI AS terkait serangan siber ini. Ia menyebut serangan tersebut melibatkan "pihak-pihak yang secara longgar terhubung" di bawah dugaan kepemimpinan kelompok bernama DragonForce.

Norman juga menyerukan agar perusahaan-perusahaan Inggris diwajibkan secara hukum untuk melaporkan serangan siber besar, mengklaim bahwa dua serangan besar terhadap perusahaan besar di Inggris baru-baru ini tidak dilaporkan.

M&S telah kembali menerima pesanan online untuk lini pakaian pada 10 Juni setelah penutupan selama 46 hari, namun layanan "klik dan ambil" belum dipulihkan. Pekan lalu, CEO Stuart Machin menyatakan kepada investor bahwa dampak terburuk dari serangan ini diperkirakan akan selesai pada Agustus.