Bagikan:

JAKARTA - Kasus kebocoran data yang seringkali terjadi di Indonesia telah membuat kepercayaan publik terhadap pemerintah menurun. Bahka, tidak jarang masyarakat melontarkan sindiran yang mengatakan Indonesia sebagai negara "open source".

Menanggapi hal tesebut, Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk, Joseph Edi Hut Lumban Gaol, mengatakan bahwa pemulihan kepercayaan masyarakat tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah saja.

Menurutnya, semua lapisan masyarakat dan sektor swasta juga memiliki andil yang besar terhadap menjaga keamanan data pribadinya. Ia juga menegaskan perlunya kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan di ekosistem digital.

"Tentunya kita sebagai semua pelaku di ekosistem, stakeholders di sini, ya tidak bisa juga membiarkan itu ke pemerintah. Kita harus bahu-membahu supaya itu tidak terjadi," kata Joseph dalam Konferensi Pers ITSEC: Cybersecurity Summit 2025 pada Senin, 28 April di Jakarta.

Joseph juga meyakini bahwa serangan siber yang terjadi - tidak hanya di Indonesia - tidak hanya bermotif ekonomi, namun juga bisa bermotif politik atau lain sebagainya.

Baginya menjaga kepercayaan publik menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas nasional. Joseph menekankan bahwa semua pihak, baik sektor swasta, masyarakat, maupun pemerintah, harus bergandengan tangan menghadapi ancaman ini.

"Karena kalau dari masyarakat sendiri kepercayaannya sudah runtuh, itu harapan, itu goal yang paling utama dari attacker. Pasti mereka punya motif. Either motif ekonomi, motif politik, atau motif macam-macam," jelasnya.

Dengan demikian, Ia menekankan pentingnya keterbukaan komunikasi kepada publik agar mereka kembali percaya bahwa perlindungan data pribadi terus menjadi prioritas.