JAKARTA — Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Apple Inc., dilaporkan secara diam-diam mengangkut sebanyak 600 ton iPhone dari India ke Amerika Serikat menggunakan pesawat kargo sewaan. Langkah ini disebut sebagai upaya untuk menghindari lonjakan tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump terhadap produk-produk dari China.
Menurut laporan tersebut, Apple memanfaatkan peningkatan produksi di India dan mempercepat pengiriman ke AS untuk membangun cadangan stok iPhone sebelum tarif baru berlaku penuh. Dengan kapasitas produksi yang terus meningkat di India, Apple memanfaatkan celah tarif — di mana tarif impor dari India hanya sebesar 26%, jauh lebih rendah dibanding tarif dari China yang telah melonjak hingga 125% sejak Rabu 9 April.
"Apple ingin mengalahkan tarif," ujar salah satu sumber yang mengetahui strategi rahasia perusahaan tersebut.
Jalur Hijau dan Operasi Hari Minggu
Apple dilaporkan melobi otoritas bandara di Chennai, Tamil Nadu, India, untuk mempercepat proses bea cukai dari 30 jam menjadi hanya 6 jam melalui skema "green corridor", sebuah sistem yang mirip dengan yang telah digunakan Apple di beberapa bandara di China.
Sejak Maret, sekitar enam pesawat kargo berkapasitas 100 ton masing-masing telah diberangkatkan dari Chennai ke berbagai kota di Amerika Serikat seperti Chicago, Los Angeles, New York, dan San Francisco. Mengingat berat rata-rata satu unit iPhone 14 berikut kabel pengisi dayanya adalah sekitar 350 gram, maka diperkirakan sekitar 1,5 juta unit iPhone telah dikirimkan dalam operasi ini.
Langkah besar Apple ini juga didukung oleh pemerintah India. Seorang pejabat senior menyebut bahwa Perdana Menteri Narendra Modi mendorong para pejabat agar mempermudah proses Apple dalam mempercepat pengiriman tersebut.
Untuk memenuhi target peningkatan produksi hingga 20%, Apple melalui mitra utamanya di India — Foxconn — menambah jumlah tenaga kerja dan memperluas jam operasional termasuk dengan membuka produksi pada hari Minggu, yang biasanya merupakan hari libur.
Sumber dari dalam pabrik menyebut bahwa pabrik Foxconn di Chennai yang memproduksi model iPhone 15 dan 16, kini telah beroperasi penuh tujuh hari dalam seminggu. Tahun lalu saja, pabrik tersebut memproduksi sekitar 20 juta unit iPhone.
Apple kini semakin memfokuskan India sebagai pusat manufaktur utama di luar China, terutama dalam upaya diversifikasi rantai pasok. Selain Foxconn, pemasok lain seperti Tata juga sedang membangun dua pabrik tambahan untuk mendukung ekspansi Apple di wilayah tersebut.
BACA JUGA:
Lonjakan Nilai Ekspor
Data bea cukai menunjukkan nilai pengiriman dari Foxconn India ke AS melonjak tajam menjadi 770 juta dolar AS pada Januari dan 643 juta dolar AS pada Februari, dibandingkan rata-rata pengiriman antara 110 hingga 331 juta dolar AS dalam empat bulan sebelumnya.
Apple sendiri diketahui menjual lebih dari 220 juta unit iPhone setiap tahun di seluruh dunia. Menurut Counterpoint Research, sekitar 20% dari seluruh iPhone yang masuk ke pasar Amerika Serikat kini berasal dari India, sementara sisanya masih dari China.
Dengan tarif tinggi dari China, harga iPhone di AS berpotensi naik signifikan. Berdasarkan estimasi Rosenblatt Securities, dengan tarif 54%, harga iPhone 16 Pro Max yang sebelumnya dijual seharga 1.599 dolar AS bisa melonjak menjadi 2.300 dolar AS. Kini dengan tarif 125%, harga bisa naik jauh lebih tinggi lagi.
Apple dan Kementerian Penerbangan India tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters terkait laporan ini. Semua sumber yang diwawancarai meminta agar identitas mereka dirahasiakan karena diskusi ini bersifat rahasia.
Langkah Apple ini menunjukkan betapa seriusnya perusahaan dalam menanggapi ketidakpastian kebijakan perdagangan global — sekaligus menjadi tanda bahwa India kini benar-benar menjadi pilar penting dalam strategi produksi Apple ke depan.