Bagikan:

JAKARTA - Di tengah lanskap digital yang terus berkembang dan juga sebagai institusi perbankan yang menangani hampir 100 juta transaksi per hari, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menegaskan komitmennya menjaga keamanan setiap transaksi pelanggan.

Meski berbagai upaya penguatan keamanan terus dilakukan, ancaman siber juga semakin berkembang dan semakin kompleks. Senior Executive Vice President of Strategic Information Technology Group BCA, David Formula, mengungkap empat jenis lanskap kejahatan siber.

Pertama, David menyoroti tren serangan ransomware, yang mengenkripsi data korban dan meminta tebusan agar data dapat diakses kembali. Selain itu, ada juga serangan Distributed Denial of Service (DDoS) yang berupaya melumpuhkan sistem dengan membanjiri server dengan lalu lintas berlebih.

"Ketiga, social engineering, termasuk phishing, yang menargetkan nasabah dengan modus penipuan. Terakhir, malware yang disebarkan melalui tautan atau aplikasi tidak resmi dan dapat mengambil alih akun nasabah,” jelas David.

Untuk menjawab tantangan keamanan siber tersebut, BCA menekankan pendekatan kemanan komprehensif yang mencakup tiga aspek utama, yaitu people (orang), process (proses), and technology (teknologi).

Dari sisi people, BCA memiliki tim ahli yang berdedikasi untuk melakukan pemantauan sistem selama 24/7 dan menganalisis pola serangan untuk mencegah serta merespons ancaman secara proaktif.

Dari sisi process, BCA mengadopsi standar keamanan ketat yang mengacu pada regulasi nasional, standar internacional seperti ISO dan NIST, serta best practice dari berbagai negara.

"Sementara dari sisi technology, BCA mengimplementasikan sistem keamanan canggih, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI)," jelas David lebih lanjut.

Tidak lupa, BCA juga mengedepankan sikap kolaboratif, dengan berbagi data terkait pelanggaran keamanan terbaru kepada regulator, termasuk daftar IP berbahaya, guna memperingatkan bank lain terhadap potensi ancaman siber.