Bagikan:

JAKARTA - Google telah mengembangkan alat kecerdasan buatan (AI) untuk menjadi kolaborator virtual bagi para ilmuwan biomedis. Hal ini diungkapkan oleh perusahaan teknologi ternama asal Amerika Serikat itu pada Rabu, 19 Februari.

Alat baru ini, yang telah diuji oleh ilmuwan dari Universitas Stanford di Amerika Serikat dan Imperial College London, menggunakan kemampuan penalaran canggih untuk membantu para ilmuwan menyusun informasi dari berbagai literatur dan menghasilkan hipotesis baru, menurut Google.

AI semakin banyak digunakan di tempat kerja, mulai dari menjawab panggilan telepon hingga melakukan penelitian hukum, menyusul kesuksesan ChatGPT dan model serupa dalam setahun terakhir.

Unit AI Google, DeepMind, menjadikan sains sebagai prioritas. Bos DeepMind, Demis Hassabis, bahkan menjadi salah satu penerima Hadiah Nobel Kimia tahun lalu berkat teknologi yang dikembangkan di unit tersebut.

Dalam eksperimen tentang fibrosis hati, Google menyatakan bahwa semua pendekatan yang disarankan oleh AI co-scientist baru ini menunjukkan aktivitas yang menjanjikan dan potensi untuk menghambat penyebab penyakit. Alat ini juga menunjukkan kemampuan untuk meningkatkan solusi yang dibuat oleh para ahli seiring waktu, tambah Google.

“Meskipun ini adalah temuan awal yang memerlukan validasi lebih lanjut, ini menunjukkan potensi yang menjanjikan bagi sistem AI canggih untuk membantu dan mempercepat pekerjaan para ilmuwan ahli,” kata Google.

Para ilmuwan yang terlibat dalam proyek ini mengatakan bahwa alat tersebut akan melengkapi, bukan menggantikan, peneliti. “Kami berharap ini akan meningkatkan, bukan mengurangi, kolaborasi ilmiah,” ujar ilmuwan Google, Vivek Natarajan.