Bagikan:

JAKARTA – Pemerintah Australia telah memberikan pengecualian bagi YouTube dalam undang-undang baru yang melarang akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Namun, para ahli kesehatan mental dan ekstremisme memperingatkan bahwa platform berbagi video ini masih dapat mengekspos anak-anak pada konten adiktif dan berbahaya.

Australia akan memblokir akses TikTok, Snapchat, Instagram, Facebook, dan X bagi anak di bawah umur sebelum akhir 2025. Platform-platform ini diwajibkan menerapkan pembatasan usia ketat atau menghadapi denda besar. Namun, pemerintah tetap mengizinkan akses ke YouTube karena dianggap sebagai alat edukasi yang berharga dan bukan "aplikasi media sosial inti."

Keputusan untuk mengecualikan YouTube dari larangan ini muncul setelah pemerintah mendengar masukan dari eksekutif perusahaan dan pembuat konten anak-anak. "Meskipun YouTube berfungsi sebagai sumber hiburan, platform ini juga menjadi sumber pendidikan dan informasi penting yang diandalkan oleh anak-anak, orang tua, dan institusi pendidikan," ujar juru bicara Menteri Komunikasi, Michelle Rowland, dikutip VOI dari Reuters.

Pakar Peringatkan Risiko Konten Berbahaya

Namun, enam peneliti ekstremisme dan kesehatan mental  menyebut pengecualian ini berpotensi melemahkan tujuan utama pemerintah dalam melindungi anak-anak dari konten berbahaya.

Survei menunjukkan bahwa YouTube adalah platform media sosial paling populer di kalangan remaja Australia, digunakan oleh 9 dari 10 anak berusia 12-17 tahun. Para akademisi menyatakan bahwa platform ini tetap menyajikan konten berbahaya, mirip dengan yang ditemukan di situs yang dilarang.

"YouTube sangat bermasalah, bukan hanya karena perannya dalam menyebarkan ekstremisme, konten kekerasan, dan pornografi, tetapi juga karena algoritmanya menyajikan video-video adiktif kepada anak-anak," kata Lise Waldek, dosen di Departemen Studi Keamanan dan Kriminologi Macquarie University.

Helen Young, anggota Addressing Violent Extremism and Radicalisation to Terrorism Network, juga menyoroti bahwa algoritma YouTube "mendorong konten sayap kanan ekstrem, baik yang bersifat rasis maupun misoginis, kepada pengguna yang diidentifikasi sebagai anak laki-laki dan remaja pria."

Para akademisi mempertanyakan mengapa platform yang paling banyak digunakan anak-anak justru dikecualikan dari larangan, padahal semua media sosial menghadapi tantangan dalam mengontrol arus konten berbahaya.

Pengujian Algoritma YouTube

Untuk menguji algoritma YouTube, Reuters membuat tiga akun dengan nama fiktif anak-anak di bawah 16 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa pencarian terkait seks dan COVID-19 mengarah pada konten misoginis dan teori konspirasi ekstrem dalam kurang dari 20 klik. Sementara itu, pencarian tentang "Sejarah Eropa" mengarahkan ke konten rasis setelah 12 jam penelusuran secara berkala.

Pencarian yang secara sengaja menargetkan komentator misoginis dan rasis selalu berujung pada konten berbahaya dalam kurang dari 20 klik. Reuters membagikan metodologi dan hasilnya kepada YouTube, yang menyatakan akan meninjau kembali materi yang ditemukan.

Reuters juga menandai enam video yang muncul dalam percobaan ini. YouTube kemudian menghapus salah satu video—wawancara dengan pemimpin neo-Nazi Australia—karena melanggar aturan tentang ujaran kebencian. Sebuah akun yang mempromosikan misogini juga ditutup. Namun, empat video lainnya tetap online.

YouTube menegaskan memiliki "kebijakan ketat yang melarang ujaran kebencian, pelecehan, dan konten kekerasan atau grafis" serta terus meningkatkan sistem deteksi otomatisnya untuk mengidentifikasi konten berbahaya. Namun, perusahaan tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai video yang masih tersedia di platformnya.