JAKARTA – Kekhawatiran mengenai baterai mobil listrik (EV) yang cepat "soak" atau kehilangan jarak tempuh drastis seiring bertambahnya usia kendaraan tampaknya mulai terpatahkan. Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa mayoritas kendaraan listrik modern mampu mempertahankan kapasitas jarak tempuh mereka dengan sangat baik, bahkan setelah lima tahun pemakaian.
Melansir InsideEVs, Senin, 27 April, adalah data dari firma analitik EV, Recurrent, yang mengolah data dari lebih dari satu miliar mil perjalanan di dunia nyata, dan hasilnya ketahanan jarak tempuh pada mobil listrik bertenaga baterai saat ini sangat mengesankan.
Berdasarkan laporan tersebut, rata-rata mobil listrik saat ini masih mempertahankan 97 persen dari jarak tempuh aslinya setelah tiga tahun kepemilikan. Angka ini hanya turun sedikit menjadi 95 persen setelah lima tahun di jalanan.
Sebagai gambaran sederhana:
- Mobil Baru: Jarak tempuh 300 mil (482 km).
- Setelah 3 Tahun: Masih mampu menempuh 291 mil (468 km).
- Setelah 5 Tahun: Masih mampu menempuh 285 mil (458 km).
Stabilitas jarak tempuh ini bukan hanya hasil dari peningkatan teknologi perangkat keras baterai, tetapi juga berkat kecerdikan para produsen otomotif dalam menggunakan perangkat lunak.
Produsen mobil kini menyertakan "buffer" atau kapasitas cadangan pada baterai. Secara teknis, produsen membatasi akses pengguna ke kapasitas total baterai saat mobil masih baru. Seiring berjalannya waktu dan terjadinya degradasi alami pada sel baterai, sistem perangkat lunak akan membuka "cadangan" tersebut secara perlahan untuk meminimalkan persepsi penurunan jarak tempuh di mata konsumen.
BACA JUGA:
Masalah range anxiety atau kecemasan akan jarak tempuh telah lama menjadi penghalang terbesar bagi calon pembeli EV. Meskipun saat ini sudah banyak mobil listrik yang menawarkan jarak tempuh di atas 300 mil (bahkan beberapa model premium mencapai 500 mil), pertanyaan mengenai daya tahan jangka panjang selalu menjadi ganjalan.
Data terbaru ini diharapkan dapat memberikan kepercayaan diri lebih bagi konsumen. Retensi jarak tempuh yang kuat tidak hanya menguntungkan pemilik pertama, tetapi juga:
- Menjaga Nilai Jual Kembali (Resale Value): Mobil listrik bekas tidak lagi dianggap sebagai aset yang berisiko tinggi.
- Mengurangi Risiko Pasar Bekas: Calon pembeli mobil listrik bekas kini memiliki bukti data bahwa performa baterai tidak akan terjun bebas.
- Kesetaraan dengan Kendaraan Bensin: Memberikan keyakinan bahwa kualitas EV tidak kalah bersaing dengan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) dalam jangka panjang.
Dengan teknologi baterai yang terus berkembang dan manajemen perangkat lunak yang semakin pintar, ketakutan akan baterai yang cepat rusak perlahan mulai menjadi mitos masa lalu.