JAKARTA – Adopsi kecerdasan buatan (AI) tengah menjadi "euforia" di industri otomotif global. Berdasarkan perkembangan terkini di industri otomotif jelang akhir 2025, Tesla adalah pabrikan mobil yang paling dominan dalam integrasi dan penggunaan AI pada kendaraannya. Dominasi ini terutama terlihat pada sistem Full Self-Driving (FSD) berbasis AI, yang memanfaatkan data real-time dari jutaan kendaraan Tesla untuk machine learning otonom, serta robotika humanoid Optimus yang mendukung ekosistem AI lebih luas.
Sementara di China, XPeng bisa dibilang pabrikan mobil China yang paling dominan dalam integrasi AI pada kendaraannya. Dominasi ini didorong oleh sistem XPILOT 5.0, yang merupakan teknologi autonomous driving berbasis AI end-to-end dengan kemampuan voice-controlled AI, navigasi otonom tingkat lanjut (Level 3+), dan integrasi data center bersama Alibaba untuk machine learning dari data pengemudi real-time.
Namun sebuah studi baru dari firma riset teknologi Gartner menimbulkan keraguan besar. Laporan tersebut memprediksi bahwa lonjakan investasi AI yang terjadi saat ini tidak akan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi mayoritas pabrikan.
Dilaporkan Reuters, dikutip Selasa, 9 Desember, studi yang dirilis awal pekan ini menunjukkan bahwa pada tahun 2029, hanya 5 persen dari produsen mobil yang akan mampu mempertahankan pertumbuhan investasi AI yang kuat. Angka ini anjlok drastis dari lebih dari 95 persen pabrikan yang berinvestasi besar-besaran saat ini.
Menurut Gartner, fenomena ini akan memperdalam jurang persaingan di ranah AI. Hanya pabrikan yang memiliki tiga pilar utama yang diperkirakan akan unggul dari fondasi perangkat lunak (software) yang kuat, kepemimpinan yang melek teknologi (tech-savvy), dan fokus jangka panjang yang konsisten pada AI.
BACA JUGA:
Produsen mobil legendaris (legacy) seperti Volkswagen (VW) kini berjuang keras untuk mengejar ketertinggalan dari rival-rival berbasis teknologi murni seperti Tesla dan pabrikan asal China, BYD. Para pabrikan lawas ini selama ini lebih dikenal unggul dalam rekayasa (engineering) mekanis, namun lemah dalam pengembangan perangkat lunak.
Analis Gartner, Pedro Pacheco, menjelaskan kepada Reuters bahwa banyak upaya yang dilakukan oleh pabrikan legacy terhambat oleh kendala internal dan pola pikir yang ketinggalan zaman.
"Perusahaan yang tidak hebat dalam perangkat lunak... pasti akan kesulitan," tegas Pacheco.
Untuk berhasil dalam era AI, Pacheco mengatakan bahwa perusahaan harus bertransformasi menjadi organisasi yang "digital-first".
Hal ini berarti bukan sekadar mengadopsi teknologi baru, tetapi juga menghilangkan hambatan internal dan memprioritaskan teknologi di level tertinggi manajemen.
Salah satu langkah penting yang disoroti adalah memastikan pemimpin divisi perangkat lunak (software leaders) memiliki jalur pelaporan langsung kepada CEO perusahaan. Tanpa perubahan struktural dan mentalitas yang mendasar, investasi AI yang ambisius saat ini berisiko menjadi sia-sia.