JAKARTA - Pabrikan otomotif asal Swedia Scania, yang merupakan bagian dari Volkswagen Group, meluncurkan inovasi terbarunya di sektor transportasi umum yaitu bus plug-in hybrid (PHEV).
Ini menjadikan Scania salah satu dari sedikit pabrikan bus di dunia yang bergabung dengan Solaris dari Polandia dan King Long dari China yang juga sudah menawarkan bus PHEV.
PHEV yang dapat diisi ulang, adalah sebuah langkah strategis untuk mengurangi emisi, terutama di wilayah perkotaan padat penduduk yang menerapkan zona bebas emisi.
BACA JUGA:

Kombinasi Mesin dan Motor Listrik yang Efisien
Dilansir dari InsideEv’s, Jumat, 19 September, platform baru ini didesain untuk bus jarak pendek maupun jarak jauh. Namun, Scania menekankan bahwa sistem PHEV ini paling efektif untuk bus jarak jauh. Sistemnya mengombinasikan mesin diesel 13 liter yang efisien, dengan dua motor listrik terintegrasi dalam transmisi otomatis, serta baterai tegangan tinggi yang dapat diisi daya cepat.
Motor listrik ganda ini menghasilkan total tenaga 389 tenaga kuda, sementara mesin dieselnya tersedia dalam dua pilihan konfigurasi: 420 hp atau 460 hp. Kombinasi ini memungkinkan bus PHEV Scania untuk melaju menggunakan mesin diesel di jalan tol jarak jauh, dan beralih ke mode listrik penuh saat memasuki area kota, menghasilkan perjalanan yang bebas emisi.
Baterai bus Scania ini memiliki kapasitas 89 kWh, yang dikembangkan dan diproduksi sendiri oleh perusahaan. Dalam mode listrik murni, bus ini mampu menempuh jarak hingga 80 kilometer dengan sekali pengisian daya penuh. Untuk pengisian daya, bus PHEV ini dapat menerima daya hingga 130 kW melalui steker CCS2. Menariknya, baterai juga bisa diisi ulang saat bus beroperasi menggunakan mesin diesel sebagai generator.
Fitur canggih lainnya adalah geofencing, yang memungkinkan pengemudi mengaktifkan mode listrik secara otomatis saat bus memasuki zona tertentu yang telah ditentukan.