JAKARTA - BYD menargetkan penjualan sekitar 1 juta mobil di luar negeri hingga akhir tahun ini. Artinya, BYD berencana melipatgandakan volume penjualan ekspornya yang tercatat pada paruh pertama tahun 2025.
Mengutip dari laman Carnewschina, Kamis, 4 September, dengan target di atas kemungkinan merek tersebut bersaing dengan eksportir mobil terkemuka yaitu SAIC dan Chery.
Chery sendiri dari Januari hingga Agustus 2025, telah membukukan total penjualan 1.727.299 unit. Capaian ini naik 14,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan hingga akhir tahun diprediksi akan terus tumbuh.
Penjualan BYD di luar negeri telah berkembang pesat sejak 2022. Tahun lalu, produsen ini menjual 417.204 unit di luar China. Pada paruh pertama tahun 2025, volume penjualan BYD di luar negeri mencapai lebih dari 472.000 unit. Saat ini, perusahaan menargetkan untuk menggandakan angka ini pada akhir tahun.
Berdasarkan laporan dari 21st Century News Group, General Manager Brand dan PR BYD Li Yunfei, mengungkapkan ambisi perusahaan di luar negeri untuk tahun 2025. ia menyampaikan bahwa BYD memperkirakan penjualan luar negerinya sepanjang tahun akan meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan lebih dari 472.000 unit yang terjual pada semester pertama. Ini berarti perusahaan berencana untuk menjual setidaknya 944.000 unit di luar China.
BACA JUGA:
Penetrasi di Pasar Global
BYD saat ini menjual kendaraan di lebih dari 100 pasar internasional. Perlu dicatat bahwa produsen mobil China ini tidak hanya mengekspor mobilnya. BYD juga mengoperasikan pabrik di luar negeri, yaitu di Uzbekistan dan Thailand. Perusahaan juga berencana membangun beberapa fasilitas produksi di Turki, Hongaria, Brasil, dan Indonesia yang direncanakan mulai beroperasi akhir tahun ini.
Perlu dicatat bahwa penjualan di luar negeri merupakan sumber pendapatan yang kuat bagi BYD. Menurut laporan Rhodium Group tahun lalu , produsen mobil Tiongkok ini meraup laba 5.000 dolar AS atau sekitar Rp82 jutaan per kendaraan yang terjual di Eropa.
Ekspor juga menjadi poin penting bagi bisnis BYD karena pertumbuhan domestiknya melambat di China. Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa perusahaan telah memperlambat produksi di China karena meningkatnya persediaan. Pihak perusahaan membantah informasi ini. Namun, peningkatan persediaan mobil di dealer menjadi masalah nyata karena perusahaan meluncurkan diskon besar untuk 22 model pada bulan Mei tahun ini.