JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump telah mengumumkan tarif sebesar 25 persen untuk semua mobil yang diimpor ke negara tersebut belum lama ini. Tidak hanya berlaku bagi kendaraan, ini juga termasuk pada semua komponen yang diimpor.
Tentu hadirnya kebijakan tarif ini akan berdampak pada harga kendaraan yang lebih tinggi bagi para pembeli. Tidak hanya bagi konsumen, ini juga bisa berimbas pada penjualan mobil yang ada di negeri Paman Sam.
Namun, pabrikan otomotif seperti Lamborghini tetap tenang dalam menghadapi kebijakan ini meskipun harga pada mobilnya akan mengalami kenaikan yang jauh lebih besar.
CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann mengatakan pihaknya sedang mengerjakan skenario dalam menghadapi hal ini sembari melihat perkembangan pasar setelah regulasi tersebut berlaku.
“Kami sedang mengerjakan berbagai skenario untuk saat ini dan kami akan memberikan tanggapan kami dalam beberapa hari ke depan,” kata Winkelmann dikutip dari Drive, Rabu, 9 April.
Ia juga menyadari bahwa pasar yang ditempati oleh Lamborghini bukanlah segmen yang paling banyak diminati konsumen seperti produsen mobil berpenumpang lainnya.
“Jelas bahwa ketika Anda melihat piramida harga mobil Lamborghini, Revuelto akan terjual lebih sedikit daripada Temerario. Bukan hanya karena mobilnya lebih besar, tetapi juga karena harganya lebih mahal,” tambah Winkelmann.
BACA JUGA:
Meskipun demikian, pria asal Jerman ini juga menepis gagasan bahwa pembeli di skala harga Lamborghini kebal terhadap beban ekonomi yang akan dilepaskan oleh tarif 25 persen Trump pada pasar mobil baru.
“Kami akan senang jika konsumen kebal dengan hal itu,” ungkap Winkelmann.
Pada tahun lalu, Lamborghini berhasil menjual sebanyak 10.687 unit supercar secara global dengan peningkatan mencapai 6 persen dibandingkan sebelumnya.
Pasar AS turut berperan dalam pertumbuhan pasar mobil Lamborghini secara global pada tahun lalu, Pabrikan berlogo ‘banteng mengamuk’ ini mencatatkan penjualan 3.712 unit di negara tersebut atau alami kenaikkan hingga 7 persen.