Imlek 2026 terasa lebih besar di istimewa karena dua hal yakni kalender dan simbol. Di China, pemerintah menetapkan libur Festival Musim Semi selama 9 hari pada 15–23 Februari 2026, yang kemudian disebut sebagai libur Imlek terpanjang. Ini lantaran durasi libur resmi negara lebih panjang dari pola tahun-tahun sebelumnya.
Di Indonesia, momentumnya memang tidak sepanjang itu, tetapi tetap lumayan. Imlek jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026, dengan cuti bersama Senin, 16 Februari 2026 sesuai SKB, sehingga terbentuk long weekend 14–17 Februari 2026.
Long weekend, dalam logika kebijakan, sering dibaca sebagai tombol “gas” ekonomi. Orang bergerak, tempat wisata penuh, hotel hidup, pusat hiburan ramai, UMKM berharap panen. Itu boleh-boleh saja. Bahkan, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto juga pernah menyebut momen libur hari besar dan mobilitas mendorong aktivitas wisata dan ikut mengangkat pertumbuhan, sehingga libur/cuti kerap diposisikan sebagai pemicu perputaran uang di daerah.
Tapi, kita juga rasanya perlu sedikit kritis. Libur panjang tidak otomatis adil. Kita sering merayakan angka kunjungan, tetapi lupa menghitung ongkos sosial yang menempel di belakangnya. Mulai dari pekerja sektor jasa yang jam kerjanya memanjang sampai keluarga yang ingin mudik atau tapi harus berhemat karena kebutuhan ekonomi.
BACA JUGA:
Nah, simbol tahun ini membuat pembacaan itu makin relevan. Menurut BBC News Indonesia, pasangan tahun ini dikenal sebagai Bing Wu yakni gabungan Api Yang dengan Kuda. Api Yang melambangkan aktivitas dan gairah. Kuda mewakili kemandirian dan tindakan. Sebuah kombinasi yang dianggap kuat.
Masih dari rujukan yang sama dan berbagai literasi, ungkapan-ungkapan Mandarin yang melibatkan “kuda” kerap dipakai untuk menyiratkan kesuksesan yang cepat, memimpin, dan momentum, terutama di lingkungan profesional.
Nah, di sini ada persoalan lain. Kalau momentum dibaca hanya sebagai kesempatan mengejar cepat seperti promo, paket wisata, belanja besar, ya asyik-asyik saja. Oke-oke saja juga, asal jangan lupa rem. Sebab Kuda Api bukan cuma soal berlari, tapi juga soal arah. Mau berlari ke mana, untuk siapa, dan siapa yang tertinggal di belakang saat semua orang sibuk “gas”.
Sehingga “Kuda Api” bisa jadi dua wajah. Ia bisa menjadi energi produktif. Bergerak cepat, ambil peluang, memimpin perubahan. Namun ia juga bisa berubah menjadi energi impulsive. Apa itu? Belanja tanpa kendali, ambisi tanpa rem, keputusan cepat yang menabrak yang lemah duluan. Karena itu, harapan terbaik di tahun Bing Wu bukan sekadar “rezeki naik” atau “usaha lancar”, melainkan keberanian. Berani menahan gairah agar tidak meledak jadi konsumsi kosong. Berani membuat perayaan tetap ramah bagi yang kecil, dan berani memastikan long weekend tidak cuma memindahkan uang ke titik-titik hiburan, tapi juga menebar manfaat yang terasa.
Kalau Kuda Api benar membawa “momentum”, maka momentum paling layak kita kejar adalah ekonomi boleh bergeliat, tetapi rasa adil harus ikut bergerak. Setelah lampion diturunkan dan long weekend selesai, yang tertinggal semestinya bukan hanya foto dan struk belanja, melainkan kebiasaan baru yakni lebih mandiri, lebih berani, dan lebih manusiawi. Apalagi di waktu yang bersamaan umat muslim di Indonesia akan memasuki bulan puasa.
Selamat menjalankan puasa dan Selamat Tahun Baru Imlek 2026—Gong Xi Fa Cai.