Lionel Messi datang ke final Piala Dunia 2026 bukan hanya membawa Argentina. Ia juga membawa sisa sebuah zaman ketika sepak bola dunia selama hampir dua dekade berputar di sekitar dirinya dan Cristiano Ronaldo.
Final melawan Spanyol menjadi pertandingan terakhir Messi sebagai pemain di Piala Dunia. Pada usia 39 tahun, ia sudah berada di ujung perjalanan internasional. Pernyataannya menjelang laga terdengar seperti seseorang yang mulai menoleh ke belakang.
“Apa pun yang terjadi nanti, tim ini telah menulis sebuah kisah yang tidak akan pernah bisa dilupakan dan tidak akan bisa dihapus siapa pun,” tulis Messi melalui media sosialnya.
Ia tidak berbicara seperti pemain yang hanya mengejar satu trofi lagi. Messi menyinggung perjalanan, rekan setim, staf pelatih, dan tim nasional yang dijaga seperti keluarga.
Trofi tetap penting. Namun, warisannya tidak lagi ditentukan oleh satu pertandingan.
Selama lebih dari satu setengah dekade, Messi dan Ronaldo menguasai percakapan sepak bola dunia. Setiap musim seolah meminta orang memilih satu dari dua nama. Barcelona atau Real Madrid. Argentina atau Portugal. Bakat alami atau kerja tanpa henti. Kaki kiri Messi atau lompatan Ronaldo.
Perdebatan itu tidak pernah benar-benar selesai. Keduanya terlalu besar untuk diabaikan dan terlalu berbeda untuk dibandingkan secara sederhana.
BACA JUGA:
Ronaldo membangun kebesarannya melalui kecepatan, kekuatan fisik, lompatan, naluri mencetak gol, dan kemampuan menyesuaikan permainan seiring bertambahnya usia. Catatan golnya di kompetisi antarklub Eropa juga masih berada di atas Messi.
Messi menawarkan keunggulan lain. Ia bukan hanya pencetak gol, tetapi juga pengatur permainan. Ia membuka ruang, mengubah tempo, mengirim umpan, dan melihat jalur yang sering belum terbaca pemain lain.
Panggung tim nasional memberi Lionel Messi pembeda paling kuat. Ia membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022, pencapaian yang tidak pernah diraih Ronaldo bersama Portugal.
Gelar di Qatar menutup pertanyaan terbesar dalam kariernya. Sebelumnya, Messi terus dibandingkan dengan legenda Argentina Diego Armando Maradona dan dinilai belum lengkap karena belum membawa Argentina menjadi juara dunia.
Ronaldo tetap memiliki tempat besar dalam sejarah. Ia membawa Portugal menjuarai Piala Eropa 2016 dan menjadi pusat salah satu generasi terbaik negaranya. Namun, Piala Dunia memberi Messi keunggulan simbolis yang sulit dibantah.
Empat tahun setelah mengangkat trofi di Qatar, Messi kembali membawa Argentina ke final. Pada usia ketika banyak pemain sudah meninggalkan panggung internasional, ia masih tampil di laga terakhir turnamen terbesar sepak bola.
Kini, sepak bola mulai memasuki masa setelah keduanya.
Ronaldo dan Portugal meninggalkan Piala Dunia 2026 lebih dahulu. Messi masih bertahan hingga final bersama Argentina. Namun, tim itu tak lagi menaruh seluruh beban di pundak pemain bernomor 10.
Lautaro Martínez mencetak gol penentu kemenangan atas Inggris di semifinal. Setelah lama berada di bawah sorotan Messi, penyerang Inter Milan itu menjadi pemain yang mengantar Argentina ke final.
Messi tetap menjadi pusat emosi tim. Namun, Argentina tidak lagi hanya menunggu keajaiban darinya.
Spanyol pun datang bukan sebagai pelengkap kisah perpisahan seorang legenda. Mereka membawa permainan kolektif, pemain muda, dan ambisi meraih gelar dunia kedua setelah 2010.
Final tidak menyediakan hadiah perpisahan. Pertandingan hanya memberi ruang kepada tim yang mampu menjaga permainan dan mengambil kesempatan.
Generasi baru kini menunggu giliran. Kylian Mbappé, Lamine Yamal, Erling Haaland, Lautaro Martínez, dan nama lain akan mencoba mengisi panggung yang perlahan ditinggalkan Messi dan Ronaldo.
Namun, mengambil alih pertandingan tidak sama dengan mengambil alih sebuah zaman.
Gol Ferran Torres pada menit ke-106 membawa Spanyol menang 1-0 atas Argentina dan meraih gelar Piala Dunia keduanya. Lionel Messi gagal mempertahankan trofi, tetapi penampilan terakhirnya sebagai pemain di Piala Dunia menutup dengan manis satu era yang selama hampir dua dekade ia kuasai bersama Cristiano Ronaldo.