Bagikan:

JAKARTA - Gelandang Declan Rice mencetak brace yang membawa Arsenal meraih kemenangan 3-2 atas Bournemouth di pertandingan Premier League Inggris di Stadion Vitality, Minggu, 4 Januari 2026 dini hari WIB. Pertandingan itu diakhiri dengan aksi protes pemain dan manajer Bournemouth Andoni Iraola kepada wasit Chris Kavanagh.

Rice menunjukkan sebagai pilar tak tergantikan Arsenal. Dirinya menjadi kekuatan utama Arsenal yang memburu titel Premier League untuk kali pertama setelah puasa gelar selama 21 tahun.

Ya, Arsenal terakhir kali memenangi titel liga pada 2004 saat masih ditangani manajer legendaris Arsene Wenger. Saat itu, Arsenal juga mengukuhkan sebagai The Invisibles. Tim yang diperkuat deretan pemain terbaik, Thierry Henry dan Patrick Vieira, memenangi liga tanpa pernah kalah.

Rekor tak terkalahkan itu memang belum terpecahkan. Bahkan Arsenal sendiri tak bisa menyamai karena sudah kalah dua kali dalam perburuan trofi liga musim ini. Namun klub London Utara ini memiliki harapan untuk mengakhiri penantian panjang tersebut.

Rice pun berperan besar memenangkan pertandingan krusial di kandang lawan. Tak hanya itu, Rice pun pernah membantu memperkuat pertahanan Arsenal saat mengalami krisis bek.

Manajer Mikael Arteta sampai terpaksa memainkan gelandang tim nasional Inggris ini sebagai full back karena Arsenal kehabisan stok pemain belakang yang mengalami cedera saat melawan Brighton and Hove Albion. Hasilnya, Rice malah berperan penting menjaga gawang David Raya dan The Gunners menang 2-1.

Kini, dirinya mencetak brace yang menjadikan Arsenal kian kukuh di puncak klasemen dengan poin 48. Kemenangan atas Bournemouth menjadikan Arsenal unggul enam poin dengan Aston Villa yang menduduki peringkat dua setelah menang 3-1 atas Nottingham Forest.

Sementara, Manchester City yang turun ke peringkat tiga dengan memiliki poin 41 akan menghadapi Chelsea dalam big match di Etihad, Senin, 5 Januari 2026 dini hari WIB.

Bila Arsenal memantapkan posisi di puncak, sebaliknya Bournemouth masih berkutat di papan bawah. Mereka menduduki peringkat 15 dengan mengantungi poin 23.

Di pertandingan itu, Arsenal sempat dikejutkan gol cepat Bournemouth yang disebabkan kesalahan fatal bek Gabriel Magalhaes. Menerima bola dari kiper David Raya, pemain belakang timnas Brasil ini bermaksud memberikan umpan kepada rekannya Jurrien Timber.

Hanya saja ada pemain lawan, Evanilson, yang berdiri di depan gawang. Menerima bola matang dari Gabriel yang melakukan kesalahan itu, Evanilson pun tak kesulitan melepaskan tendangan ke gawang yang kosong.

Gol yang tercipta saat laga baru berjalan 10 menit menjadikan Bournemouth unggul 1-0. Namun Arsenal mampu bangkit dengan cepat. Mereka langsung menekan pertahanan lawan.

Hasilnya, Gabriel membayar kesalahan dengan mencetak gol yang menyamakan skor enam menit kemudian. Gol berawal dari aksi penetrasi Noni Madueke yang kemudian melepaskan tendangan ke gawang.

Hanya saja, sepakan Madueke bisa digagalkan sehingga tercipta kemelut. Gabriel yang menerima bola rebound langsung menendang bola tanpa bisa dicegah kiper Dorde Petrovic.

Ini merupakan gol ke-20 Gabriel sejak bergabung dengan Arsenal pada 2020. Dirinya pun menjadi bek paling produktif yang pernah dimiliki Arsenal. Skor berubah 1-1 untuk kedua tim dan bertahan hingga babak pertama usai.

Memasuki babak kedua, Arsenal mengambil inisiatif menyerang. Permainan ofensif tim yang belum pernah memenangi Liga Champions pun membuahkan hasil saat Rice sukses menyambut assist kapten Martin Odegaard di menit 56. Tendangan dia dari luar kotak penalti membawa Arsenal unggul 2-1.

Gol Rice menjadikan Arsenal kian agresif menekan pertahanan tuan rumah. Apalagi, mereka mampu menguasai permainan dan unggul dalam ball possession.

Setelah gagal memanfaatkan sejumlah peluang, Rice akhirnya mencetak gol kedua yang memantapkan keunggulan Arsenal di menit 71. Gol berawal dari assist Bukayo Saka yang masuk sebagai pemain pengganti dan menjadikan Arsenal meninggalkan lawannya dengan skor 3-1.

Meski sudah tiga kali kebobolan, namun Bournemouth tak menyerah. Mereka mencoba bangkit. Hasilnya, Bournemouth tak butuh lama untuk memperkecil ketinggalannya saat Eli Kroupi memecah kebuntuan di menit 76.

Namun upaya tuan rumah menambah satu gol agar bisa mendapatkan poin di kandang sendiri tak kunjung membuahkan hasil.

Pada detik-detik terakhir saat melakukan tekanan dan pemain depan Antonine Semenyo hendak melepaskan tendangan ke arah gawang, namun wasit Kavanagh malah meniup peluit akhir pertandingan.

Tak urung keputusan Kavanagh membuat kubu Bournemouth melakukan protes. Pasalnya wasit mengakhiri pertandingan saat satu tim melakukan serangan. Para pemain pun mengerubungi wasit. Tidak ketinggalan Iraola yang melakukan protes.

“Ini di luar kebiasaan mengakhiri pertandingan seperti ini. Di babak pertama, kami juga menghadapi situasi seperti ini. Terus terang ini sungguh mengecewakan,” kata Iraola kepada The Sun.

Namun Bournemouth tak bisa berbuat apa-apa karena keputusan wasit tak berubah dan laga berakhir dengan kekalahan 3-2.