JAKARTA - Utang bersih Manchester United telah menembus angka 1 miliar dolar AS (sekitar Rp16,6 triliun) untuk pertama kalinya karena pinjaman musim panas untuk perekrutan pemain. Total utang klub tersebut mencapai level tertinggi sejak pengambilalihan oleh keluarga Glazer pada 2005.
Dalam laporan keuangan kuartal pertama klub yang diterbitkan Kamis, 11 Desember 2025, pinjaman jangka panjang Manchester United--tumpukan utang yang dibangun sejak pengambilalihan dengan leverage oleh keluarga Glazer--dilaporkan sebesar 481 juta pound (sekitar Rp10,7 triliun).
Namun, dengan Manchester United menggunakan tambahan 105 juta pound (sekitar Rp2,3 triliun) dari fasilitas kredit bergulir--mekanisme pinjaman tambahan--sehingga total pinjaman mereka menjadi 268 juta pound (sekitar Rp5,9 triliun). Total utang bersih Manchester United telah meningkat menjadi 749 juta pound (Rp16,6 triliun).
BACA JUGA:
Manchester United telah membayar utang besar mereka sejak keluarga Glazer, pemilik franchise NFL Tampa Bay Buccaneers, membeli klub yang sebelumnya bebas utang ini 20 tahun yang lalu.
Grup Ineos, yang dipimpin oleh orang terkaya di Inggris, Sir Jim Ratcliffe, menjadi pemilik minoritas pada Februari 2024 setelah mengakuisisi 27,7 persen saham klub dalam kesepakatan senilai 1,3 miliar pound (sekitar Rp28,9 triliun).
Sejak saat itu, Ratcliffe dan Ineos telah melakukan upaya pengurangan biaya di Old Trafford yang bertujuan untuk membuat klub lebih berkelanjutan.
Meskipun melampaui angka utang miliaran dolar AS untuk pertama kalinya, CEO Manchester United, Omar Berrada, mengatakan hasil keuangan terbaru menunjukkan bahwa mereka membuat kemajuan yang signifikan dalam transformasi klub.
The Red Devils tidak bermain di turnamen Eropa musim ini, tetapi melaporkan laba operasional sebesar 13 juta pound (sekitar Rp289,6 miliar) untuk tiga bulan pertama musim ini, setelah mengalami kerugian sebesar 6,9 juta pound (sekitar Rp153 miliar) pada periode yang sama musim lalu.
Total pendapatan Manchester United untuk periode tersebut turun 2 persen menjadi 140,3 juta pound (sekiar Rp3,1 triliun) karena absennya turnamen kontinental.
"Hasil keuangan yang kuat ini mencerminkan ketahanan Manchester United saat kami membuat kemajuan yang signifikan dalam transformasi klub."
"Keputusan sulit yang telah kami buat dalam setahun terakhir telah menghasilkan basis biaya yang lebih rendah secara berkelanjutan serta organisasi yang lebih efisien dan efektif, yang siap mendorong klub menuju peningkatan kinerja olahraga dan komersial dalam jangka panjang."
"Hal itu telah membantu kami berinvestasi pada tim putra dan putri kami, yang masing-masing berada di posisi keenam dan ketiga di Liga Inggris dan Liga Super Wanita (WSL)," kata Berrada dilansir ESPN.
Laporan keuangan tersebut menyatakan bahwa Manchester United terus merasakan dampak dari program pengurangan biaya operasional dan jumlah karyawan yang diterapkan selama tahun sebelumnya.
Ineos mengawasi skema pengurangan karyawan skala besar, yang merupakan bagian dari restrukturisasi operasi klub lebih luas yang menyumbang 8,6 juta pound (sekitar Rp191,6 miliar) dalam pos luar biasa pada kuartal pertama tahun fiskal 2026.
Program tersebut, bersama dengan pengurangan gaji pemain, menyebabkan pengeluaran tunjangan karyawan untuk kuartal tersebut menurun sebesar 6,6 juta pound (sekitar Rp147 miliar) dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 73,6 juta pound (sekitar Rp1,6 triliun).
Pendapatan sponsor Manchester United telah turun sebesar 9,3 persen menjadi 47 juta pound (sekitar Rp1 triliun), sebagian besar karena kurangnya perlengkapan latihan, setelah kesepakatan dengan Tezos berakhir.
The Red Devils mengatakan mereka tetap berada di jalur yang tepat untuk mencatat pendapatan antara 640 juta pound dan 660 juta pound (sekitar Rp14,2-14,7 triliun).