Bagikan:

JAKARTA - Jose Mourinho akan kembali ke Stamford Bridge pada Rabu, 1 Oktober 2025, dini hari WIB. Kali ini, kedatangan pelatih asal Portugal itu sebagai tamu.

Chelsea akan menjamu Benfica, pasukan Mourinho, pada laga kedua fase grup Liga Champions 2025/2026.

Setelah pergi dari London, kembalinya Mourinho ke Stamford Bridge tak pernah disambut hangat oleh suporter Chelsea. Namun, kali ini dia ingin memastikan bahwa tak ada lagi sambutan negatif ketika ia datang.

Mourinho mengatakan bahwa dirinya tak bisa dilepaskan dari sejarah kesuksesan The Blues, begitu pun Chelsea yang sudah menjadi sejarah dari perjalanan kariernya.

"Saya adalah bagian dari sejarah mereka dan mereka adalah bagian dari sejarah saya. Saya membantu mereka menjadi Chelsea yang lebih besar dan mereka membantu saya menjadi Jose yang lebih besar."

"Ketika saya mengatakan saya bukan seorang penggemar Chelsea, saya harap semua orang mengerti saya. Saya berbicara tentang pekerjaan yang harus saya lakukan," tutur Mourinho.

Pelatih berjuluk The Special One ini juga mengisyaratkan bahwa dia ingin berhubungan baik bahkan mencintai Chelsea yang sangat menghargainya.

Soalnya, foto-foto Mourinho yang sukses membawa Chelsea meraih berbagai trofi masih tetap terpajang di Drake Suite Stamford Bridge.

"Terkait foto-foto ini (di suite Drake), tidak banyak klub yang melakukan hal ini. Di banyak klub, sepertinya ada ketakutan akan apa yang terjadi pada masa lalu dan ada transformasi foto yang terus-menerus."

"Terkadang sepertinya mereka ingin menghapus orang-orang yang telah membuat sejarah di klub. Saya pikir ini menunjukkan bahwa Chelsea benar-benar klub besar karena klub-klub besar juga berprinsip."

"Saya akan selalu menjadi penggemar Chelsea. Saya adalah bagian dari sejarah mereka," kata Mourinho.

Tak heran, Mourinho pun menepis semua kepahitan sebelumnya yang ia dapat ketika balik lagi ke Stamford Bridge sebagai tamu.

Dia menegaskan bahwa suporter Chelsea sebetulnya salah paham dengan salah satu episode kepulangannya ke London.

Hal itu terjadi pada Oktober 2018 ketika Manchester United asuhannya kebobolan gol penyeimbang pada masa injury time dari Chelsea asuhan Maurizio Sarri.

"Ketika sesuatu terjadi, itu adalah ketika salah satu anggota bangku cadangan Chelsea menghina saya," kata Mourinho, yang merujuk pada asisten Sarri, Marco Ianni.

"Saya bereaksi dan orang-orang mengira saya bereaksi terhadap gol Chelsea karena mereka mencetak gol pada menit terakhir. Ternyata tidak."

"Pelatihnya adalah Sarri dan dia benar-benar hebat dalam cara dia bereaksi terhadap asistennya. Chelsea juga hebat dalam cara mereka menanganinya."

"Saya juga hebat karena Chelsea ingin memecat orang itu dan saya mengatakan tidak kepada mereka. Bukan karena sesuatu yang terjadi dalam pertandingan sepak bola. Biarkan orang itu tenang dan di bangku cadangan. Semua orang bisa melakukan hal-hal buruk," ujar eks pelatih Porto FC itu.

Meski punya cerita membekas dan masih mencintai Chelsea, Mourinho sekarang realistis. Kedatangannya ke Stamford Bridge ialah untuk mengalahkan The Blues dan membawa pulang poin penuh bersama Benfica.

"Saya sudah pernah bermain di sini bersama Tottenham Hotspur, Manchester United, dan Inter Milan. Dalam 90 menit, saya tidak memikirkan di mana saya berada atau dengan siapa saya bermain."

"Jadi, saya berkata bahwa saya bukan lagi biru. Saya (Benfica) merah sekarang. Saya ingin menang. Namun, tentu saja, saya akan selalu menjadi biru."

"Saya rasa suporter Chelsea tidak mencemooh saya (pada laga nanti melawan Benfica). Setidaknya di jalan, merekalah yang selalu mengganggu saya,untuk difoto dan meminta tanda tangan," ujar Mourinho.