JAKARTA - Chairman Crystal Palace, Steve Parish, dan pengacara klub bersidang di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss untuk sidang banding mereka pada Jumat, 8 Agustus 2025.
Palace menyampaikan argumen yang mereka harap akan mengembalikan posisi juara Piala FA tersebut ke Liga Europa--turnamen level kedua UEFA.
Parish mengatakan kepada wartawan di luar pengadilan di Lausanne bahwa ia yakin kasus klub tersebut kuat dan berharap mereka akan diberikan persidangan yang adil.
"Mengingat situasi kami saat ini, sulit untuk merasa yakin karena rasanya seperti distopia berada dalam situasi ini. Jadi, saya tidak tahu."
"Semoga akal sehat akan menang dan kami akan mendapatkan jawaban yang tepat. Namun, mari kita lihat pada Senin (11 Agustus 2025)," ujar Parish seperti dilansir Sky Sports.
BACA JUGA:
Di tempat terpisah, tepatnya London, Manajer Crystal Palace, Oliver Glasner, memberikan pernyataan dukungan.
Ia mengakui potensi degradasi timnya dari Liga Europa ke UEFA Conference League terasa seperti hukuman bagi tim yang tidak bersalah.
"Jika Anda dihukum saat merasa tidak bersalah, itu sulit. Rasanya seperti ini. Jika kami bermain di UEFA Conference League, rasanya seperti kami dihukum, tetapi kami tidak bersalah."
"Di sisi lain, jika kami mengakhiri musim di posisi tujuh dan langsung masuk ke UEFA Conference League, kami semua pasti akan merayakannya."
"Jadi, inilah dua perasaan yang kami miliki. Namun, sekali lagi, jika Anda tidak melakukan kesalahan dan Anda merasa dihukum, Anda tidak akan pernah merasa baik."
"Jadi, inilah yang kami rasakan. Bagaimana perasaan kami tentang keputusan UEFA," kata Glasner menjelang putusan hukum pada Senin, 11 Agustus 2025, yang akan menentukan nasib mereka di Eropa.
Palace diturunkan dari Liga Europa ke UEFA Conference League oleh UEFA pada 11 Juli 2025 setelah memutuskan bahwa per 1 Maret 2025, pengusaha Amerika Serikat, John Textor, memiliki kendali atau pengaruh di Palace dan klub Ligue 1, Olympique Lyonnais.
Aturan UEFA menyatakan bahwa jika satu atau lebih klub dianggap memiliki kepemilikan yang sama, mereka tidak dapat bermain di turnamen yang sama.
Lyon mengungguli Palace untuk satu-satunya tempat di Liga Europa karena mereka finis lebih tinggi dari Palace di liga.
Namun, Textor sudah menjual sahamnya di Palace kepada pemilik New York Jets, Woody Johnson, sebuah kesepakatan yang diselesaikan pada akhir Juli 2025.
Kendati demikian, UEFA tetap pada pendiriannya untuk menggeser Palace ke UEFA Conference League.
Sementara itu, Glasner menegaskan bahwa perselisihan di luar lapangan tidak memengaruhi persiapan atau suasana latihan menjelang musim 2025/2026.
Timnya akan memulai musim mereka melawan Liverpool di Community Shield pada Minggu, 10 Agustus 2025, di Wembley.
"Tidak, sama sekali tidak. Pertemuan pertama kami setelahnya, ketika kami bertemu, hal itu hanya disebutkan sekali."
"Satu slogan kami adalah kami ingin fokus pada hal-hal yang dapat kami pengaruhi sehingga kami tidak dapat memengaruhi keputusan UEFA."
"Kami tidak memiliki pengaruh terhadap keputusan CAS. Jadi, itu tidak masuk akal. Para pemain benar-benar bermain sangat baik sepanjang pramusim dan latihan, bekerja sangat keras."
"Kami berkata, baiklah, pada 11 Agustus 2025 kami akan mendapatkan keputusan akhir. Kami akan menerimanya. Jadi, hanya itu yang bisa kami lakukan," katanya.
Glasner juga bersikeras bahwa ketidakpastian turnamen Eropa mana yang akan mereka ikuti tidak menyurutkan minat calon pemain meskipun dikabarkan tidak senang dengan terbatasnya bisnis klub sejauh musim panas ini.
"Kami harus (merekrut). Bukan seperti keinginan sang pelatih, itu janji. Bukan. Ini semua tentang Crystal Palace."
"Jika Crystal Palace ingin bermain di sepak bola Eropa, ingin berkompetisi di kompetisi lain, ingin naik peringkat di Liga Inggris, ingin mengulangi kesuksesan itu lagi, itu yang harus Anda lakukan. Semua orang di gedung ini tahu ini," tutur sang pelatih.