JAKARTA - Mantan petinju kelas berat yang dikenal luas sebagai Butterbean, namun memiliki nama asli Eric Esch, secara terbuka mengungkapkan perjuangan panjangnya melawan kecanduan seks dan obesitas setelah pensiun dari ring tinju. Dalam wawancara eksklusif dengan The Mirror, pria berusia 58 tahun itu menceritakan sisi kelam kehidupannya di balik ketenaran.
Butterbean, yang dikenal sebagai ikon dalam dunia tinju dan hiburan karena tubuh tambunnya dan gaya bertarung agresif, mengakui bahwa ketenaran yang datang tiba-tiba di era 1990-an dan awal 2000-an memperburuk kecanduan seks yang telah lama menghantuinya. Ia mengatakan bahwa perasaan ditolak di masa kecil karena tubuhnya yang besar, serta naiknya popularitas secara mendadak, turut menjadi pemicu utama.
"Aku sudah menikah cukup lama dan aku selalu mencintai istriku, tapi itu adalah hal yang selalu sulit aku atasi," kata Butterbean. "Sekarang, aku baik-baik saja. Aku percaya diri dengan diriku sekarang. Aku anak baik sekarang."

Meskipun sempat terjerumus dalam perselingkuhan, ia tetap mempertahankan rumah tangganya dengan sang istri, Libby Esch. Mereka dikaruniai tiga anak, termasuk dua putra yang sempat terjun ke dunia seni bela diri campuran (MMA), meski tak ada yang mencapai bobot tubuh 400 pon seperti yang pernah dicapai Butterbean semasa aktif bertanding.
Dalam foto lawas, Butterbean terlihat bersama sang istri yang disebutnya sebagai sosok yang sangat berharga dalam hidupnya. Perjuangan mereka sebagai pasangan melewati masa-masa sulit menjadi bukti keteguhan keluarga di tengah badai.
Dikenal sebagai "King of the Four-Rounders", Butterbean memulai kariernya dari ajang Toughman Contest, sebuah turnamen tinju amatir dengan aturan yang lebih aman. Kariernya menanjak hingga ke level profesional, bahkan sempat diberi sabuk juara oleh promotor Bob Arum untuk divisi super heavyweight—divisi yang sebenarnya tidak resmi di dunia tinju.
Meski tidak pernah mengalahkan petinju papan atas, dan sempat kalah dari mantan juara dunia Larry Holmes pada 2002, Butterbean tetap menjadi sosok populer di media, termasuk di dunia gulat hiburan. Namun, ketenarannya tidak mampu menghalangi penurunan drastis kesehatan yang dialaminya. Berat badannya sempat menembus angka 500 pon (lebih dari 225 kg), dan ia bahkan harus menggunakan kursi roda untuk bergerak.
"Aku sampai tidak bisa jalan, tidak bisa ke toko hanya untuk beli minuman," kenangnya. "Aku depresi. Aku di tempat tidur hampir setahun… hanya bangun untuk ke kamar mandi. Aku makan di tempat tidur. Aku benar-benar tidak pernah keluar dari kasur."
Namun, hidup Butterbean mulai berubah saat ia bertemu dengan legenda gulat Diamond Dallas Page (DDP). Melalui program yoga milik DDP, Butterbean berhasil menurunkan berat badan lebih dari 90 kilogram dan kini merasa lebih sehat dibandingkan saat usianya masih 20-an.
BACA JUGA:
"Aku pindah ke rumah DDP untuk sementara waktu, mengikuti program yoga-nya, dan sekarang aku dalam kondisi terbaik sepanjang hidupku," kata Butterbean. "Aku merasa jauh lebih baik di usia 50-an dibandingkan saat aku masih muda. Aku seperti menemukan mata air awet muda."
Meski sudah pensiun, Butterbean masih menyimpan satu keinginan untuk kembali naik ring: melawan bintang kontroversial Jake Paul.
"Butterbean kembali untuk satu pertarungan terakhir," ucapnya dalam sebuah video di media sosial. "Hanya ada satu petarung di luar sana yang suka melawan pria botak yang sudah pensiun. Aku datang untukmu. Aku ingin melawan Jake Paul karena dia terlalu banyak omong."
Jake Paul sendiri sebelumnya sudah sempat bertarung melawan Mike Tyson yang juga berusia 58 tahun saat itu.
Perjalanan hidup Butterbean adalah kisah tentang jatuh dan bangkit. Dari masa kecil penuh ejekan, kejayaan di atas ring, hingga keterpurukan karena kecanduan dan obesitas, kini ia bangkit kembali sebagai sosok yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih bijak.