JAKARTA - Pelatih Roberto De Zerbi membeberkan bila dirinya dikhianati Inter Milan dan tak pernah ingin menghubunginya. Pelatih Olympique Marseille ini juga menyebut sepak bola Italia arogan sehingga gagal di Liga Champions dan kalah di kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Norwegia..
De Zerbi blak-blakan soal Inter yang telah mengkhianati dirinya. Klub elite Serie A Italia ini tak pernah menghubungi dia lagi meski sudah ada pertemuan untuk negosiasi sebagai pelatih Inter.
"Inter tak pernah menghubungi saya," kata De Zerbi saat menanggapi rumor dirinya bakal menggantikan Simone Inzaghi sebagai pelatih Inter.
"Saya sesungguhnya sudah membahas siapa saja pemain yang masuk tim. Saya juga sudah mengunjungi pemilik klub di Miami. Bila saya sudah berkomitmen, berarti saya siap untuk bekerja sepenuhnya," ucap dia lagi.
"Namun saya seperti dikhianati. Persoalannya memang tidak ada kontrak sehingga saya tak bisa berbuat apa-apa. Bila saya sudah menunjukkan respek dan kejujuran tetapi tidak ada balasannya, lebih baik saya pergi," kata eks pelatih Brighton and Hove Albion ini.
Meski seorang Italia, namun De Zerbi tak segan mengritik sepak bola di negara tersebut, tidak hanya klub tetapi juga tim nasional. Sikap tidak hormat yang ditunjukkan Inter terhadap dirinya menjadi bukti bila klub di Italia memang arogan. Termasuk meremehkan kualitas Ligue 1 Perancis. Tak heran bila De Zerbi tak diperhitungkan meski membawa Marseille menempati peringkat dua di Ligue 1.
Namun semua mata akhirnya terbuka setelah Inter dihabisi Paris Saint-Germain 5-0 di final Liga Champions. Meski tak terkejut dengan keberhasilan PSG menjadi juara, namun De Zerbi tak memperkirakan Inter bisa kalah telak hingga lima gol tanpa balas.
"Inter sesungguhnya tim besar dan Inzaghi termasuk pelatih terbaik. Namun kalah hingga lima gol itu sudah berlebihan," ucap De Zerbi.
"Problemnya adalah sepak bola Italia memang tidak tahu apa pun soal PSG. Dan mereka memang sangat arogan. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan sejak menit pertama pertandingan. Mereka tidak tahu bahwa Ousmane Dembele selalu berada di dekat area penalti untuk mengantisipasi umpan-umpan yang salah atau [Desire] Doue yang memiliki talenta seperti Lamine Yamal meski tak sepenuhnya sama," beber pelatih berusia 47 ini.
"Bahkan mereka tidak tahu kalau Vitinha sesungguhnya gelandang terbaik di dunia saat ini. Mereka juga tidak tahu apa pun tentang [Joao] Neves atau [Willian] Pacho. Di Italia, mereka sama sekali tidak memperhitungkan bila saya membawa Marseille menjadi runner up Ligue 1. Mereka memang mengabaikan Liga Perancis dan tidak tahu betapa sulitnya di sini," ujarnya.
BACA JUGA:
De Zerbi juga mengingatkan sepak bola sudah sangat sulit karena kemampuan yang merata. Dan itu pula yang terjadi di Oslo saat Norwegia membantai Italia 3-0. Kekalahan yang berujung diberhentikannya pelatih Luciano Spalletti.
Kekalahan itu, menurut De Zerbi, menunjukkan sepak bola mengalami penurunan. Bahkan level mereka di bawah Norwegia yang memiliki Erling Haaland dan Martin Odegaard.