JAKARTA - Gelandang David Frattesi mengaku semuanya menjadi gelap setelah mencetak gol yang menentukan kemenangan Inter Milan atas Barcelona di laga kedua semifinal Liga Champions. Dalam duel di Stadion Giuseppe Meazza, Milan, Rabu, 7 Mei 2025 dini hari WIB, Frattesi mencetak gol di babak extra time yang membawa Inter menang 4-3.
Frattesi mengawali laga semifinal dengan duduk di bench. Dia baru masuk menggantikan gelandang Henrikh Mkhitaryan di menit 79. Namun setelah dia masuk, gawang Inter malah kebobolan lewat gol Raphinha yang membawa Barca unggul 3-2.
Situasi memburuk karena gol tercipta menjelang pertandingan usai atau tersisa tiga menit waktu normal. Beruntung, bek veteran Francesco Acerbi menyelamatkan Inter dengan membobol gawang Barca di injury time dan mengubah skor menjadi 3-3.
Saat memasuki babak extra time karena agregat imbang 6-6, Frattesi tampil sebagai bintang kemenangan. Menyelesaikan assist Mehdi Taremi, dia sukses menaklukkan kiper Wojciech Szczesny di menit 99. Skor berubah 4-3 dan bertahan hingga laga usai. Inter lolos dengan agregat 7-6.
Meski menjadi penentu, namun Frattesi mengaku beruntung bisa mencetak gol. Bahkan dia tak menyangka bisa membobol gawang lawan.
Saat merayakan gol, dia malah merasa pusing dan sekelilingnya menjadi gelap. Hanya, gelandang berusia 25 ini tidak sampai pingsan.
"Apa yang terjadi? Saya malah tidak tahu. Saya merayakan gol dengan berteriak kencang lalu kepala saya malah seperti berputar. Saya kemudian melihat sekeliling, semua menjadi gelap," kata Frattesi seperti dikutip laman UEFA.
"Meski demikian, Saya beruntung menjadi penyelesai pertandingan. Saya pikir tidak akan pernah merasakan pengalaman penuh emosi seperti ini lagi. Tetapi itulah indahnya sepak bola. Dan itu menjadi bagian indah dari karier saya. Di pertandingan itu, saya menjadi orang pertama yang yakin [Inter bakal bangkit] dan saya memastikan menjadi pemain terakhir yang menyerah," ucapnya lagi.
Frattesi menuturkan dia sesungguhnya tidak dalam kondisi terbaik menjelang laga semifinal itu. Namun pemain tim nasional Italia ini kemudian mendapat perawatan intensif dari fisioterapis. Ini yang menjadikan dia mengawali laga dengan duduk di bench. Frattesi pun mendedikasikan gol itu kepada mereka.
"Saya harus mengucapkan terima kasih kepada fisioterapis. Dalam beberapa hari terakhir, saya dalam kondisi tidak bagus. Namun mereka bisa memulihkan kondisi saya. Kemenangan ini saya dedikasikan kepada mereka. Ini luar biasa. Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ini pertandingan yang luar biasa," ujar Frattesi lagi.
Sementara, bek sayap Federico Dimarco merasa puas dengan semangat juang tim sehingga mereka mampu bangkit setelah tertinggal 3-2. Dimarco juga tak segan memuji pelatih Simone Inzaghi yang mampu memimpin tim dengan sangat baik.
"Kami sudah unggul tetapi kemudian tertinggal. Namun kami berhasil bangkit di pertandingan yang luar biasa ini. Kami menunjukkan sebagai tim sepanjang pertandingan. Kami juga selalu berusaha tetap fokus di setiap momen pertandingan, terutama saat berada dalam situasi sulit," kata Dimarco.
Lebih lanjut, pemain berusia 27 ini menuturkan, "Inzaghi memang pemimpin kami yang sesungguhnya. Dia menunjukkan kepada kami bagaimana seharusnya bermain."
Inter sendiri lolos ke final untuk kali kedua selama tiga tahun terakhir. Mereka mencapai laga puncak pada 2023. Hanya saja, Inter yang sudah ditangani Inzaghi kalah 1-0 lawan Manchester City.
Skuad Nerazzurri tak banyak berubah saat kembali ke final untuk menghadapi Paris Saint-Germain atau Arsenal di Stadion Allianz Arena, Munich, Minggu, 1 Juni 2025 dini hari WIB.
BACA JUGA:
"Kami ingin ke sana untuk menang. Kami ingin memastikan Inter mencapai puncak," kata kapten Lautaro Martinez yang mencetak gol pertama Inter.
PSG berpeluang lolos ke final setelah unggul 1-0 atas Arsenal di laga pertama. Juara Ligue 1 Perancis ini hanya butuh hasil imbang pada semifinal kedua di kandang sendiri di Parc des Princes, Kamis, 8 Mei 2025 dini hari WIB.