Bagikan:

JAKARTA - Jenni Hermoso--salah satu pemain Tim Nasional Wanita Spanyol yang memenangi Piala Dunia 2023-- bersaksi pada Senin, 3 Februari 2025, dalam persidangan mantan Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), Luis Rubiales, atas kasus penyerangan seksual.

Striker berusia 34 tahun itu adalah saksi pertama dalam persidangan yang dimulai di Pengadilan Tinggi Madrid dan akan berlangsung setidaknya sembilan hari.

Rubiales, 47 tahun, dituduh melakukan penyerangan seksual kemudian mencoba memaksa Hermoso--dengan bantuan tiga pria lainnya--untuk menyatakan bahwa ciuman itu atas dasar suka sama suka.

Ia pun membantah tuduhan tersebut. Padahal, Rubiales terlihat oleh jutaan orang di seluruh dunia mencengkeram kepala Hermoso dan mencium bibirnya selama upacara penghargaan setelah final Piala Dunia Wanita 2023.

"Ia mencengkeram kepala saya dengan penuh semangat. Saya tidak bisa bereaksi. Itu hanya seperseribu detik. Saya merasa itu sama sekali tidak masuk akal. Saya tahu bos saya mencium saya."

"Itu seharusnya tidak terjadi. Saya merasa tidak dihormati. Itu merusak salah satu hari terindah dalam hidup saya. Saya tidak mengharapkan tindakan itu. Saya juga tidak mengharapkannya. Saya tidak dihormati."

"Saya memberi tahu Alexia (Putellas) dan Irene (Paredes) bahwa Rubiales telah mencium saya di mulut. Alexia berkata, 'Tidak masuk akal!' Saya merasa itu tidak normal," kata Hermoso kepada pengadilan pada Senin, 3 Februari 2025.

Rubiales, yang akan memberikan bukti akhir bulan ini, mengatakan bahwa gerakan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Dia mengatakan bahwa ia merasa menjadi korban agresi.

Namun, Hermoso--yang pertama kali diperiksa oleh jaksa penuntut negara dan kemudian oleh pengacara pembela Rubiales--menguraikan apa yang menurutnya merupakan upaya RFEF untuk melindungi Rubiales setelah ciuman itu.

"Bus (tim) berhenti dan saya turun. Petugas pers sudah menunggu saya. Mereka menunjukkan kepada saya sebuah ponsel berisi sebuah pernyataan."

"Mereka menulisnya untuk dikirim ke pers dan untuk menenangkan keributan. Mereka ingin mengambil langkah itu agar api padam."

"Saya membaca sekilas teks itu. Saya tidak ingin tahu apa sebenarnya yang tertulis di sana. Saya menjadi sangat kesal."

"Saya tidak ingin melakukan apa pun lagi. Saya sudah muak dan mengatakan kepada mereka lakukan apa pun yang kalian inginkan," kata Hermoso, menceritakan sebuah insiden saat tim melakukan perjalanan ke bandara di Sydney.

Hermoso mengatakan Rubiales kemudian berbicara dengannya secara pribadi selama penerbangan dari Australia ke Spanyol.

"(Rubiales) meminta saya untuk membantunya. Ada banyak kehebohan, mereka menyebutnya sebagai agresor."

"Saya bilang tidak, saya tidak akan melakukan apa pun. Dia meminta saya (melakukannya) demi putri-putrinya, yang sedang mengalami masa-masa sulit."

"Saya bilang saya minta maaf, tetapi saya tidak akan melakukannya. Dia bilang istrinya tidak terganggu (oleh ciuman itu)," ujar Hermoso lagi dalam kesaksiannya.

Skandal yang terjadi setelah Spanyol juara Piala Dunia Wanita pertama kali itu menjadi titik balik bagi upaya para pesepak bola wanita Spanyol untuk mengungkap seksisme dan mencapai kesetaraan dengan pemain pria.

"Sejak saya menginjakkan kaki di Spanyol, kamera televisi selalu ada di luar rumah saya, 24 jam sehari, orang-orang menunggu saya. Orang-orang mengikuti saya, orang-orang mengambil foto saya."

"Saya harus meninggalkan Madrid bersama seluruh keluarga saya. Saya takut keluar ke jalan kalau-kalau ada orang yang mengejar saya."

"Saya menerima ancaman pembunuhan, berbagai pesan. Kami meninggalkan Madrid. Itu tidak bisa terelakkan," tutur Hermoso.

Sidang akan menghadirkan beberapa rekan setim Hermoso, termasuk pemenang Ballon d'Or, Alexia Putellas, untuk bersaksi. Sementara Rubiales telah meminta kedua putrinya untuk bersaksi.

Ia dan para terdakwa lainnya--mantan pelatih Tim Nasional Wanita Spanyol, Jorge Vilda, mantan Direktur Olahraga RFEF, Albert Luque, dan mantan Kepala Pemasaran RFEF, Ruben Rivera, akan bersaksi pada 12 Februari 2025 setelah pengadilan mewawancarai saksi lainnya.

Jaksa menuntut hukuman penjara dua setengah tahun untuk Rubiales, meskipun di Spanyol mereka yang dijatuhi hukuman di bawah dua tahun biasanya dapat terhindar dari hukuman penjara dengan membayar ganti rugi jika mereka tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya.

Skandal ini memicu pemogokan oleh rekan-rekan setim Hermoso dan mengakibatkan beberapa kepala di federasi terguling, dengan tangan kanan dan penerus Rubiales juga digulingkan. Akhirnya, Tim Nasional Wanita Spanyol untuk pertama kalinya ditangani pelatih wanita.