JAKARTA - Aespa kembali membawa kejutan kecil untuk musim panas. Grup K-pop asal Korea Selatan itu akan merilis album studio kedua, “Lemonade”, Jumat pukul 13.00 waktu setempat.
Menurut laporan Yonhap dikutip Jumat, 29 Mei, album ini datang dua tahun setelah album studio pertama mereka, “Armageddon”, yang dirilis pada Mei 2024. Kali ini, Karina, Winter, Giselle, dan Ningning masih memakai energi elektronik yang kuat. Namun nadanya dibuat lebih segar.
“Orang-orang sering menyebut musik kami punya ‘rasa metalik’. Tapi kali ini kami kembali dengan ‘rasa asam’,” kata aespa dalam konferensi pers di Seoul, dikutip Yonhap.
Kalimat itu ringan, tetapi cukup menjelaskan arah baru aespa. Mereka tidak meninggalkan bunyi keras yang selama ini menjadi ciri. Hanya saja, “Lemonade” terasa ingin dibuat lebih santai, lebih sejuk, dan lebih mudah masuk ke telinga pendengar musim panas.
Lagu utama “Lemonade” memakai bas synthesizer, yaitu bunyi elektronik yang dibuat lewat alat musik digital, dengan hentakan kuat. Pesannya sederhana: cobaan hidup diibaratkan lemon. Jangan hanya ditelan pahitnya. Olah menjadi limun.
“Ini tentang memperlakukan cobaan dan rasa sakit sebagai lemon, lalu menggilingnya menjadi lemonade yang lezat,” ujar Karina. “Kami berharap orang-orang mendapat energi dari lagu ini.”
BACA JUGA:
Menurut Yonhap, album berisi 10 lagu itu juga memuat “WDA”, lagu hip-hop yang sudah dirilis lebih dulu dan menampilkan G-Dragon. Ada pula “Switchblade” bersama rapper Amerika Serikat Ty Dolla Sign.
Nomor lain adalah “Shakin’”, lagu dansa tentang rasa percaya diri; “Can’t Help Myself” yang diberi sentuhan rock; serta “Camouflage”, lagu hyper-pop, yakni pop elektronik dengan bunyi cepat, padat, dan eksperimental.
Di luar musik, aespa tetap membawa semesta fiksi mereka yang berbasis dunia virtual. Untuk album ini, konsepnya bertumpu pada “retakan” di multisemesta dan dunia paralel. Multisemesta berarti bayangan tentang banyak semesta yang berjalan berdampingan.
Bagi aespa, retakan itu bukan hanya tanda krisis. Ia juga jalan menuju kemungkinan baru.
“Album kedua ini membawa semesta fiksi khas kami selangkah lebih jauh,” kata Winter. “Penggemar akan merasakan intensitas yang sudah akrab, tetapi juga pesan dan arah yang lebih kuat.”
Karina menyebut tema besar babak ini adalah mengubah krisis menjadi peluang. Ini memang terdengar seperti kalimat motivasi. Namun dalam mesin K-pop, pesan seperti itu bisa berubah menjadi lagu, koreografi, busana, video, dan toko pop-up yang bekerja serempak.
Untuk promosi, aespa akan membuka toko pop-up, yaitu toko sementara untuk menjual produk dan pengalaman promosi, di IFC Mall, Yeouido, Seoul, mulai Jumat hingga 7 Juni. Toko serupa juga dibuka di Los Angeles, New York, dan Shenzhen, China. Setelah itu, promosi berlanjut ke lebih dari enam kota lain, termasuk Bangkok, Tokyo, dan Taipei.
Lewat “Lemonade”, aespa tampaknya sedang menguji resep baru: tetap futuristis, tetap intens, tetapi tidak terlalu dingin. Kali ini, rasa asam justru dijual sebagai penyegar.