JAKARTA - Kabar duka menyelimuti dunia musik setelah penyanyi gospel legendaris sekaligus penulis lagu asal Amerika Serikat, Ron Kenoly, dinyatakan meninggal dunia pada Selasa, 3 Februari, waktu setempat.
Kenoly mengembuskan napas terakhirnya pada usia 81 tahun, meninggalkan warisan musik yang telah menjangkau berbagai belahan dunia selama hampir lima dekade.
Direktur Musik Bruno Miranda mengonfirmasi kabar duka tersebut melalui pernyataan resmi di akun Instagram sang legenda. Dalam keterangannya, Miranda mengungkap rasa kehilangan yang mendalam atas berpulangnya sosok yang bukan sekadar musisi, melainkan mentor spiritual bagi banyak orang.
"Pagi ini, 3 Februari 2026, kami mengucapkan selamat jalan kepada Dr. Ron Kenoly,” tulis Miranda.
“Selama lebih dari 20 tahun, saya mendapat kehormatan berjalan berdampingan dengannya dalam pelayanan di seluruh dunia, bukan hanya sebagai direktur musiknya, tetapi sebagai seorang putra, murid, dan saksi dari kehidupan yang ditandai oleh kesetiaan," sambungnya.
Dua hari sebelum meninggal dunia, tepatnya pada Minggu, 1 Februari, Ron Kenoly sempat mengunggah pesan terakhir di media sosialnya. Ia merefleksikan 48 tahun perjalanannya di dunia pelayanan musik dan menyampaikan apresiasi kepada orang-orang yang membantunya menjangkau 123 negara.
"Saya berusia 81 tahun dan berada di tahun ke-48 pelayanan saya. Ini adalah beberapa dari mereka yang membantu saya menjangkau lebih dari 123 negara di seluruh dunia selama 20 tahun terakhir," tulis Kenoly.
BACA JUGA:
Kepergian Kenoly memicu gelombang belasungkawa dari tokoh agama dan musisi gospel ternama seperti Don Moen, Nathaniel Bassey, hingga Bishop Wale Oke dari Nigeria.
Oke mengenang Kenoly sebagai bejana anugerah yang rendah hati. "Meskipun hati kami berat, kami berserah pada kehendak Tuhan yang sempurna, terhibur oleh keyakinan bahwa hidup yang dihabiskan dalam pengabdian setia tidak akan pernah sia-sia," tuturnya.
Lahir di Coffeyville, Kansas, Ron Kenoly memulai karier musiknya di gereja lokal sebelum terjun ke dunia militer dan musik sekuler.
Pada tahun 1985, ia memutuskan untuk fokus sepenuhnya pada pelayanan ibadah.
Album “Lift Him Up” (1992) miliknya mencatatkan sejarah dengan meraih sertifikasi Gold setelah terjual lebih dari 500.000 keping.
Hingga akhir hayatnya, Kenoly aktif mengajar di dua universitas di AS dan menjalankan program mentoring bagi para pemimpin pujian di seluruh dunia.