JAKARTA - Musik menjalankan fungsinya sebagai medium untuk merenung dan mengenal diri, memperlambat waktu. Hal itu dapat dirasakan keika mendengar album terbaru Adhitia Sofyan yang meluncur 6 November, Observasi Transisi.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan bising, Adhitia mengajak pendengar berkontemplasi, merayakan berbagai perasaan dalam balutan harmoni yang syahdu. Secara keseluruhan, album ini menawarkan nuansa yang familier dari karya-karya sebelumnya, tapi dengan sentuhan-sentuhan baru yang pas, tanpa terkesan memaksakan keluar terlalu jauh dengan dalih eksplorasi.
Sembunyi Dulu menjadi trek pembuka album ini yang mampu merepresentasikan pesan yang ingin disampaikan di album ini. Tak perlu terus berlari mengikuti arus, mengejar kebahagiaan yang standarnya mulai mengerucut. Berhenti dulu jadi perlu untuk menemukan bahagia kita sendiri.
Pendekatan lirik yang ditawarkan di album ini punya keunikan tersendiri. Ketimbang menyematkan banyak metafora, ia lebih banyak bercerita secara lugas. Meski begitu, ratapan yang ditulis secara dramatis tetap tetap dihadirkan di nomor-nomor yang lebih melankolis seperti di trek Destinasi dan Penutupan.
BACA JUGA:
Bahkan di lagu yang diracik secara hangat dengan irama bossa nova, Jauh di Mata Jauh di Hati, ada ide menarik yang disampaikan, menjadi antitesis tentang ungkapan-ungkapan populer. Dengan merdu, Adhitia berlagu "Kan cinta tak harus memiliki. Sungguh satu kalimat yang konyol. Takkan rela jika engkau bersama yang lain."
Seperti merangkum observasi dalam kehidupan dengan berbagai permasalahannya, album ini membawa banyak kisah dan sudut pandang tentang cinta, hubungan antarmanusia dan lirik retrospektif yang tak hanya syahdu, tapi juga masuk akal.
Bagi yang berekspektasi mendengar album yang eksperimental, mungkin Observasi Transisi bukan jawaban yang dicari. Namun album bukan hanya soal perubahan, tapi cara seorang musisi menampilkan sisi terbaik dirinya di waktu tertentu. Dan inilah hal terbaik yang berhasil dikaryakan Adhitia Sofyan dengan tulus.