Bagikan:

JAKARTA - Musisi DPR Ian mengungkapkan kekecewaannya terhadap label DPR (Dream Perfect Regime) beserta beberapa rekan grupnya, salah satunya Scott atau DPR REM. Melalui akun X (Twitter), penyanyi bernama Christian Yu itu meluapkan kemarahannya secara terang-terangan.

“Aku yang edit, bikin efek visual (VFX), dan bikin konser DPR dari nol. 10 tahun terakhir, aku memberikan hidupku untuk ini tapi aku malah dapat penghasilan lebih sedikit dari sekretaris yang aku rekrut. Ini semua terjadi di bawah aturan Scott,” tulis DPR Ian melalui akun X.

“Lagi? Lagi? Dan Lagi? Beri tahu mereka untuk membayar uangnya atau jangan pergi tanpa tanggung jawab, lakukan sesuatu. Kamu mundur dari posisimu, melakukannya dua kali sementara menghabiskan uang tiga kali lipat dan minta brand untuk menaikkan bayaran?” lanjutnya.

Pernyataan ini terungkap setelah DPR Live atau Hong Da Bin mengajukan gugatan kepada CEO dari perusahaan mereka, Regime International atas dugaan pembagian hasil yang tidak adil serta penghasilan yang tidak diberikan dari hasil tur dan materi lainnya.

Meski selama ini Hong Da Bin tidak bicara banyak hal namun kemarahan Christian Yu ini menjadi pencerahan bagi penggemar yang mencari tahu penyebab grup mereka tidak aktif. DPR Ian mengaku ia berkontribusi dengan kerja kreatif untuk grup meski tidak mendapat penghasilan sesuai.

Pada tahun 2023, Hong Da Bin keluar dari grup namun ia masih menggunakan nama panggung DPR Live. Kemudian, ia tidak bisa menggunakan nama itu karena aturan hak dagang.

Setelah Christian menulis cuitan tersebut, Da Bin merespons dan menuding Jeff, CEO DPR menjadi penyebab dari pertengkaran mereka.

“Scott sedang ramah belakang, sementara Jeff sangat menyebalkan dalam proses negosiasi, terutama terkait isu kontrak tur dan mengakhiri negosiasi yang seharusnya selesai sejak lama. Sikap manipulasinya membuat semua orang kesal,” tulis Hong Da Bin.

Pihak DPR sendiri belum memberi respons terhadap pernyataan DPR Ian dan Hong Da Bin tersebut.